Pemerintah RI memang menunggu kembalinya perusahaan teknologi raksasa seperti Google untuk membangun data center di tanah air, tapi mereka lebih suka investasi di Malaysia. Menurut Deputi Promosi Penanaman Modal dan Hilirisasi Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan, pemerintah Malaysia memiliki beberapa keuntungan yang membuat perusahaan teknologi raksasa seperti Google memilih untuk melirik negara tersebut.
Pertama-tama, pemerintah Malaysia memiliki sumber daya manusia yang lebih lengkap dalam bidang komputer dan teknologi. "Kita memiliki banyak lulusan perguruan tinggi di bidang komputer, itu adalah keuntungan kita," kata Nurul Ichwan saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta.
Selain itu, pemerintah Malaysia juga memiliki infrastruktur yang cukup untuk mendukung pembangunan data center. "Kawasan Asia Tenggara sendiri dilirik karena kapasitas lahan, listrik, dan air yang masih melimpah," ujar Nurul Ichwan.
Sementara itu, di Indonesia, sumber daya manusia ini cenderung kurang lengkap dalam bidang komputer dan teknologi. "Kita harus mengatur strategi penciptaan sumber daya manusia kita berbasis STEM (Science Technology, Engineering, or Mathematics)," kata Nurul Ichwan.
Mengapa perusahaan teknologi raksasa seperti Google lebih suka investasi di Malaysia? Menurut Nurul Ichwan, karena mereka memiliki kebutuhan data center yang cukup tinggi dan pemerintah Malaysia dapat menawarkan solusi yang lengkap. "Sebenarnya kalau untuk yang high-tech, yang menjadi isu pertama bagi mereka adalah tentang ketersediaan sumber daya manusia," ujarnya.
Selanjutnya, Nurul Ichwan juga mengatakan bahwa pemerintah Malaysia memiliki kemampuan dasar dari sumber daya manusia yang bisa mengoperasikan teknologi tersebut. "Tingkatan lulusan perguruan tinggi di bidang komputer di Malaysia lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia," kata dia.
Jadi, bagaimana kita bisa meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia? Menurut Nurul Ichwan, kita harus meningkatkan pendidikan berbasis STEM di sekolah dan universitas. "Jadi ke depan harusnya STEM itu menjadi arus utama bagi peningkatan sumber daya manusia," ujarnya.
Dan itulah alasan mengapa Google dan perusahaan teknologi lainnya lebih suka investasi di Malaysia daripada Indonesia. Tapi, apa yang kita dapat dari segala hal ini adalah kesempatan untuk meningkatkan pendidikan berbasis STEM di Indonesia.
Pertama-tama, pemerintah Malaysia memiliki sumber daya manusia yang lebih lengkap dalam bidang komputer dan teknologi. "Kita memiliki banyak lulusan perguruan tinggi di bidang komputer, itu adalah keuntungan kita," kata Nurul Ichwan saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta.
Selain itu, pemerintah Malaysia juga memiliki infrastruktur yang cukup untuk mendukung pembangunan data center. "Kawasan Asia Tenggara sendiri dilirik karena kapasitas lahan, listrik, dan air yang masih melimpah," ujar Nurul Ichwan.
Sementara itu, di Indonesia, sumber daya manusia ini cenderung kurang lengkap dalam bidang komputer dan teknologi. "Kita harus mengatur strategi penciptaan sumber daya manusia kita berbasis STEM (Science Technology, Engineering, or Mathematics)," kata Nurul Ichwan.
Mengapa perusahaan teknologi raksasa seperti Google lebih suka investasi di Malaysia? Menurut Nurul Ichwan, karena mereka memiliki kebutuhan data center yang cukup tinggi dan pemerintah Malaysia dapat menawarkan solusi yang lengkap. "Sebenarnya kalau untuk yang high-tech, yang menjadi isu pertama bagi mereka adalah tentang ketersediaan sumber daya manusia," ujarnya.
Selanjutnya, Nurul Ichwan juga mengatakan bahwa pemerintah Malaysia memiliki kemampuan dasar dari sumber daya manusia yang bisa mengoperasikan teknologi tersebut. "Tingkatan lulusan perguruan tinggi di bidang komputer di Malaysia lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia," kata dia.
Jadi, bagaimana kita bisa meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia? Menurut Nurul Ichwan, kita harus meningkatkan pendidikan berbasis STEM di sekolah dan universitas. "Jadi ke depan harusnya STEM itu menjadi arus utama bagi peningkatan sumber daya manusia," ujarnya.
Dan itulah alasan mengapa Google dan perusahaan teknologi lainnya lebih suka investasi di Malaysia daripada Indonesia. Tapi, apa yang kita dapat dari segala hal ini adalah kesempatan untuk meningkatkan pendidikan berbasis STEM di Indonesia.