Pendiri SpaceX, Elon Musk, menyatakan bahwa sekolah kedokteran dalam beberapa tahun ke depan akan menjadi kurang relevan. Ia percaya akal imitasi (AI) akan menggantikan kemampuan dokter dalam berbagai bidang medis.
Dengan kemajuan teknologi, AI dapat membuka akses layanan kesehatan yang sama rata bagi semua orang. Contohnya adalah teknologi otomatisasi di industri medis, seperti prosedur lasik. Dalam proses tersebut, robot mengambil alih tugas-tugas spesifik yang dulunya dilakukan oleh tangan manusia.
Namun, Musk tetap menjelaskan bahwa keberadaan sekolah kedokteran masih dibutuhkan untuk bidang spesifik, seperti kasus-kasus kompleks yang memerlukan penilaian, kreativitas, dan empati yang tidak tergantikan. "Sentuhan manusia tetap diperlukan untuk situasi yang membutuhkan pertimbangan mendalam," ujarnya.
Jika terwujud, prediksi Musk akan menjadi revolusi besar bagi pendidikan medis tradisional. Calon dokter harus berdampingan dengan AI dalam menangani diagnostik, perencanaan perawatan, hingga bantuan bedah. Transisi ini masih menyisakan ruang bagi peran manusia, khususnya untuk hal yang terspesialisasi dan empatik di dunia medis masa depan.
Musk percaya bahwa AI akan mengungguli kemampuan dokter dalam berbagai aspek medis. Dengan demikian, sekolah kedokteran harus berinovasi dan siap menghadapi perubahan tersebut.
Dengan kemajuan teknologi, AI dapat membuka akses layanan kesehatan yang sama rata bagi semua orang. Contohnya adalah teknologi otomatisasi di industri medis, seperti prosedur lasik. Dalam proses tersebut, robot mengambil alih tugas-tugas spesifik yang dulunya dilakukan oleh tangan manusia.
Namun, Musk tetap menjelaskan bahwa keberadaan sekolah kedokteran masih dibutuhkan untuk bidang spesifik, seperti kasus-kasus kompleks yang memerlukan penilaian, kreativitas, dan empati yang tidak tergantikan. "Sentuhan manusia tetap diperlukan untuk situasi yang membutuhkan pertimbangan mendalam," ujarnya.
Jika terwujud, prediksi Musk akan menjadi revolusi besar bagi pendidikan medis tradisional. Calon dokter harus berdampingan dengan AI dalam menangani diagnostik, perencanaan perawatan, hingga bantuan bedah. Transisi ini masih menyisakan ruang bagi peran manusia, khususnya untuk hal yang terspesialisasi dan empatik di dunia medis masa depan.
Musk percaya bahwa AI akan mengungguli kemampuan dokter dalam berbagai aspek medis. Dengan demikian, sekolah kedokteran harus berinovasi dan siap menghadapi perubahan tersebut.