Pemerintah Inggris menyatakan dukungannya terhadap Amerika Serikat dalam menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia dalam operasi besar yang menargetkan aktivitas pelayaran gelap. Langkah ini merupakan bagian dari upaya internasional untuk mengatasi fenomena "pelayaran bayangan" (shadow shipping activity) dan menindak tegas penghindaran sanksi oleh Moskow.
Menurut Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, pemerintah Inggris telah memberikan izin penggunaan pangkalan militer di Inggris serta menggerakan aset Angkatan Laut dan Angkatan Udara untuk mendukung operasi AS. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada personel Inggris yang terlibat langsung dalam proses pengambilalihan kapal.
"Inggris tidak akan tinggal diam saat aktivitas jahat meningkat di laut lepas. Bersama sekutu, kami meningkatkan respons terhadap kapal-kapal bayangan, dan kami akan terus melakukannya," kata Healey dengan tegas.
Kapal tanker yang disita tersebut merupakan bagian dari jaringan pelayaran bayangan yang semakin meluas dan memicu ketidakamanan global. Menurutnya, Rusia mengoperasikan armada gelap ini secara khusus untuk mendanai invasi mereka di Ukraina.
Sejak invasi skala penuh pada 2022, Moskow diketahui telah membangun "armada bayangan" yang terdiri dari ratusan kapal tanker. Kapal-kapal ini terus mengangkut minyak Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam meskipun berada di bawah sanksi Barat, yang memberikan pemasukan bagi Kremlin hingga ratusan juta dolar setiap tahunnya.
Selain masalah pelayaran minyak, Healey juga menyoroti pola aktivitas maritim Rusia yang dianggap provokatif di seluruh Eropa. Ia memaparkan insiden pada November lalu, di mana sebuah kapal mata-mata Rusia memasuki perairan Inggris dan mengarahkan laser ke arah pilot militer.
Operasi penyitaan ini menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara Barat semakin agresif dalam mempersempit ruang gerak ekonomi dan aktivitas intelijen Rusia di jalur laut internasional.
Menurut Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, pemerintah Inggris telah memberikan izin penggunaan pangkalan militer di Inggris serta menggerakan aset Angkatan Laut dan Angkatan Udara untuk mendukung operasi AS. Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada personel Inggris yang terlibat langsung dalam proses pengambilalihan kapal.
"Inggris tidak akan tinggal diam saat aktivitas jahat meningkat di laut lepas. Bersama sekutu, kami meningkatkan respons terhadap kapal-kapal bayangan, dan kami akan terus melakukannya," kata Healey dengan tegas.
Kapal tanker yang disita tersebut merupakan bagian dari jaringan pelayaran bayangan yang semakin meluas dan memicu ketidakamanan global. Menurutnya, Rusia mengoperasikan armada gelap ini secara khusus untuk mendanai invasi mereka di Ukraina.
Sejak invasi skala penuh pada 2022, Moskow diketahui telah membangun "armada bayangan" yang terdiri dari ratusan kapal tanker. Kapal-kapal ini terus mengangkut minyak Rusia dari pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Hitam meskipun berada di bawah sanksi Barat, yang memberikan pemasukan bagi Kremlin hingga ratusan juta dolar setiap tahunnya.
Selain masalah pelayaran minyak, Healey juga menyoroti pola aktivitas maritim Rusia yang dianggap provokatif di seluruh Eropa. Ia memaparkan insiden pada November lalu, di mana sebuah kapal mata-mata Rusia memasuki perairan Inggris dan mengarahkan laser ke arah pilot militer.
Operasi penyitaan ini menjadi sinyal kuat bahwa negara-negara Barat semakin agresif dalam mempersempit ruang gerak ekonomi dan aktivitas intelijen Rusia di jalur laut internasional.