Industri mobil listrik di Indonesia mulai meluncur, meski masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Menurut Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BKPM, Nurul Ichwan, industri kendaraan listrik sudah memasuki tahap perakitan karoseri. Proses ini berarti bahwa komponen-komponen mobil listrik seperti mesin, transmisi, dan ban sudah mulai dipasang di dalam karoseri.
Namun, beberapa produsen mobil listrik masih berada dalam tahap konstruksi fisik bangunan pabrik. Nurul mengakui bahwa ketersediaan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) atau "charging station" masih menjadi katalis utama untuk mendorong peralihan konsumen dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.
Ia juga menekankan bahwa jika infrastruktur pendukung belum memadai, maka peralihan konsumen ke mobil listrik akan terhambat. Nurul percaya bahwa apabila infrastruktur pendukung telah memadai, potensi pasar mobil listrik yang besar dapat tergarap secara optimal.
Tentu saja, pemerintah berkomitmen mendorong investasi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Mereka berencana untuk meningkatkan ketersediaan SPKLU di berbagai wilayah, sehingga konsumen dapat dengan mudah menemukan tempat untuk mengisi baterai mobil mereka.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen dalam memberikan insentif bagi industri otomotif yang ingin memproduksi mobil listrik. Namun, Nurul menyatakan bahwa kebijakan tersebut masih belum jelas dan harus ditinjau oleh Kementerian Keuangan.
Dengan demikian, industri mobil listrik di Indonesia mulai bergerak. Meski masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, pemerintah berkomitmen untuk mendorong peralihan konsumen ke kendaraan listrik dan meningkatkan ketersediaan infrastruktur pendukung.
Namun, beberapa produsen mobil listrik masih berada dalam tahap konstruksi fisik bangunan pabrik. Nurul mengakui bahwa ketersediaan infrastruktur pendukung seperti stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) atau "charging station" masih menjadi katalis utama untuk mendorong peralihan konsumen dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik.
Ia juga menekankan bahwa jika infrastruktur pendukung belum memadai, maka peralihan konsumen ke mobil listrik akan terhambat. Nurul percaya bahwa apabila infrastruktur pendukung telah memadai, potensi pasar mobil listrik yang besar dapat tergarap secara optimal.
Tentu saja, pemerintah berkomitmen mendorong investasi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Mereka berencana untuk meningkatkan ketersediaan SPKLU di berbagai wilayah, sehingga konsumen dapat dengan mudah menemukan tempat untuk mengisi baterai mobil mereka.
Selain itu, pemerintah juga berkomitmen dalam memberikan insentif bagi industri otomotif yang ingin memproduksi mobil listrik. Namun, Nurul menyatakan bahwa kebijakan tersebut masih belum jelas dan harus ditinjau oleh Kementerian Keuangan.
Dengan demikian, industri mobil listrik di Indonesia mulai bergerak. Meski masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, pemerintah berkomitmen untuk mendorong peralihan konsumen ke kendaraan listrik dan meningkatkan ketersediaan infrastruktur pendukung.