Indonesia tidak boleh sampai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi beban fiskal jangka panjang tanpa hasil yang memadai. Menurut Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, program ini perlu dikelola dengan baik untuk berkelanjutan.
"Jangan sampai program MBG justru menjadi beban fiskal antargenerasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai," kata Rizal dalam diskusi daring. Program ini perlu mempertahankan desain fiskal yang berarti tidak menambah utang terhadap fiskal atau juga menekan defisit, serta menghindari pembiayaan berbasis utang.
Evaluasi program MBG harus dilakukan berdasarkan kohort dan outcome, bukan sekadar penyerapan anggaran. Pertimbangan fiskal program ini perlu disesuaikan dengan struktur anggaran MBG yang komposisinya 82 persen anggaran pada subfungsi pendidikan, serta 18 persen pada subfungsi kesehatan.
Selain itu, MBG juga memiliki manfaat lain seperti sebagai transfer nontunai kepada anak usia 0-18 tahun untuk menyiapkan tenaga kerja atau sumber daya manusia masa depan. Program ini perlu disesuaikan dengan perbaikan asupan gizi, menurunkan stunting, dan meningkatkan kapasitas kognitif.
"Penyesuaian lain dalam simulasi model ini adalah gizi meningkatkan konsentrasi belajar, capaian pendidikan, dan menaikkan kualitas manusia," kata Rizal. Namun, program ini tidak berdampak signifikan pada Pertumbuhan Dinomis (PDB) jangka pendek namun berpotensi meningkatkan pertumbuhan potensial ketika kohort memasuki pasar kerja jangka panjang.
Ada catatan risiko bahwa MBG sangat bergantung pada ketapatan sasaran, kualitas implementasi, dan integrasi lintas sektor. Namun, program ini telah menyerap sebanyak 789.319 tenaga kerja dan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang telah berdiri sebanyak 19.343 unit.
Program MBG juga telah menunjukkan efisiensi dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi. Namun, manfaat program ini tidak terefleksikan melalui kenaikan upah riil, melainkan melalui peningkatan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi.
"Jangan sampai program MBG justru menjadi beban fiskal antargenerasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai," kata Rizal dalam diskusi daring. Program ini perlu mempertahankan desain fiskal yang berarti tidak menambah utang terhadap fiskal atau juga menekan defisit, serta menghindari pembiayaan berbasis utang.
Evaluasi program MBG harus dilakukan berdasarkan kohort dan outcome, bukan sekadar penyerapan anggaran. Pertimbangan fiskal program ini perlu disesuaikan dengan struktur anggaran MBG yang komposisinya 82 persen anggaran pada subfungsi pendidikan, serta 18 persen pada subfungsi kesehatan.
Selain itu, MBG juga memiliki manfaat lain seperti sebagai transfer nontunai kepada anak usia 0-18 tahun untuk menyiapkan tenaga kerja atau sumber daya manusia masa depan. Program ini perlu disesuaikan dengan perbaikan asupan gizi, menurunkan stunting, dan meningkatkan kapasitas kognitif.
"Penyesuaian lain dalam simulasi model ini adalah gizi meningkatkan konsentrasi belajar, capaian pendidikan, dan menaikkan kualitas manusia," kata Rizal. Namun, program ini tidak berdampak signifikan pada Pertumbuhan Dinomis (PDB) jangka pendek namun berpotensi meningkatkan pertumbuhan potensial ketika kohort memasuki pasar kerja jangka panjang.
Ada catatan risiko bahwa MBG sangat bergantung pada ketapatan sasaran, kualitas implementasi, dan integrasi lintas sektor. Namun, program ini telah menyerap sebanyak 789.319 tenaga kerja dan jumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang telah berdiri sebanyak 19.343 unit.
Program MBG juga telah menunjukkan efisiensi dalam menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi. Namun, manfaat program ini tidak terefleksikan melalui kenaikan upah riil, melainkan melalui peningkatan kesejahteraan aktualisasi dan konsumsi.