Pemimpin muda di kalangan masyarakat Indonesia kini mulai mengkritik pemerintahan Jokowi yang terus mengekang kebebasan berbicara dan berkarya. Inayah Wahid, putri presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga dikenal sebagai Nay, membicarakan pentingnya humor atau komedi sebagai pilar kelima demokrasi di Indonesia.
Menurut Nay, humor adalah salah satu cara untuk memeriksa kesehatan demokrasi. Dia mengatakan bahwa jika pers dan jurnalisme merupakan dua pilar utama demokrasi, maka humor atau komedi harus menjadi pilar yang lima. Dengan begitu, kita bisa melihat sejauhmana demokrasi benar-benar berjalan atau tidak.
Namun, menurut Nay, ada beberapa tantangan yang membuat humor atau komedi kurang bisa dilakukan dengan bebas. Pemerintah dan masyarakat sering melakukan pelarangan atau keterbatasan terhadap kebebasan berbicara dan berkarya melalui media sosial atau platform online. Bahkan, ada juga bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pihak berwenang atau kelompok-kelompok yang tidak mendukung kebebasan berbicara.
Nay mengatakan bahwa pelarangan ini sering kali terjadi melalui cara-cara yang tidak langsung, seperti buzzer, tekanan publik, tekanan netizen, dan bahkan doxing. "Itu yang menakutkan. Jadi, tampaknya seakan-akan masih demokrasi, tapi sebenarnya itu dikerahkan," ujar Nay.
Dengan demikian, Nay ingin mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga kebebasan berbicara dan berkarya, terutama melalui humor atau komedi. Karena, jika kita tidak bisa melakukan hal ini, maka demokrasi benar-benar tidak akan berhasil.
Menurut Nay, humor adalah salah satu cara untuk memeriksa kesehatan demokrasi. Dia mengatakan bahwa jika pers dan jurnalisme merupakan dua pilar utama demokrasi, maka humor atau komedi harus menjadi pilar yang lima. Dengan begitu, kita bisa melihat sejauhmana demokrasi benar-benar berjalan atau tidak.
Namun, menurut Nay, ada beberapa tantangan yang membuat humor atau komedi kurang bisa dilakukan dengan bebas. Pemerintah dan masyarakat sering melakukan pelarangan atau keterbatasan terhadap kebebasan berbicara dan berkarya melalui media sosial atau platform online. Bahkan, ada juga bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pihak berwenang atau kelompok-kelompok yang tidak mendukung kebebasan berbicara.
Nay mengatakan bahwa pelarangan ini sering kali terjadi melalui cara-cara yang tidak langsung, seperti buzzer, tekanan publik, tekanan netizen, dan bahkan doxing. "Itu yang menakutkan. Jadi, tampaknya seakan-akan masih demokrasi, tapi sebenarnya itu dikerahkan," ujar Nay.
Dengan demikian, Nay ingin mengingatkan kita semua untuk selalu menjaga kebebasan berbicara dan berkarya, terutama melalui humor atau komedi. Karena, jika kita tidak bisa melakukan hal ini, maka demokrasi benar-benar tidak akan berhasil.