Pasar tradisional di Padang kini menjadi lapangan pertarungan harga yang ketat, mengingat semakin melambatnya pasokan cabai yang berasal dari daerah penghasil seperti Agam, Tanah Datar, dan Pariaman. Harga ini meningkat hingga mencapai Rp 200 ribu per kilogram pada akhir pekan lalu.
Para pedagang mulai merasakan dampak dari lonjangan harga cabai ini, karena stok yang masuk ke lapak mereka semakin terbatas. Bahkan ada yang menyatakan stoknya hanya cukup untuk 10 kilogram saja. "Sekarang mau cari lagi pun sudah susah sekali," kata Robi, salah satu pedagang cabai di Pasar Raya Padang.
Akses jalan yang rusak dan terputus akibat bencana banjir bandang merupakan pemicu utama kesulitan ini. Banyak petani juga gagal panen karena kebun mereka tersapu banjir maupun tertimbun material banjir bandang. Mereka hanya bisa menunggu dan berharap pasokan kembali stabil.
Bahkan para pembeli terpaksa mengurangi pembelian atau mencari alternatif lain, sehingga beberapa lapak bahkan menjual cabai dalam kemasan kecil seharga Rp 10 ribu untuk setakar genggam. Hal ini menunjukkan bagaimana ketidakpastian harga mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Saat ini, Dinas terkait di Pemerintah Kota Padang sedang melakukan pemantauan harga dan distribusi, serta berkoordinasi dengan daerah lain untuk menjaga ketersediaan pasokan. Namun, lonjangan harga cabai ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga alur distribusi pulih dan pasokan dari daerah terdampak bencana kembali stabil.
Para pedagang mulai merasakan dampak dari lonjangan harga cabai ini, karena stok yang masuk ke lapak mereka semakin terbatas. Bahkan ada yang menyatakan stoknya hanya cukup untuk 10 kilogram saja. "Sekarang mau cari lagi pun sudah susah sekali," kata Robi, salah satu pedagang cabai di Pasar Raya Padang.
Akses jalan yang rusak dan terputus akibat bencana banjir bandang merupakan pemicu utama kesulitan ini. Banyak petani juga gagal panen karena kebun mereka tersapu banjir maupun tertimbun material banjir bandang. Mereka hanya bisa menunggu dan berharap pasokan kembali stabil.
Bahkan para pembeli terpaksa mengurangi pembelian atau mencari alternatif lain, sehingga beberapa lapak bahkan menjual cabai dalam kemasan kecil seharga Rp 10 ribu untuk setakar genggam. Hal ini menunjukkan bagaimana ketidakpastian harga mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat.
Saat ini, Dinas terkait di Pemerintah Kota Padang sedang melakukan pemantauan harga dan distribusi, serta berkoordinasi dengan daerah lain untuk menjaga ketersediaan pasokan. Namun, lonjangan harga cabai ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga alur distribusi pulih dan pasokan dari daerah terdampak bencana kembali stabil.