Bukanlah siapa pun yang bisa mengatakan bahwa seorang kuli bangunan yang berhasil menjadi raja gol di Liga Primer Inggris memiliki kemampuan untuk menembus kulit penguasa. Namun, ada satu pemuda yang mengalahkan semua orang dan mencapai kejayaan tanpa memandang latar belakangnya. Igor Thiago adalah contoh nyata dari perjuangan keras yang menjadi filosofi hidupnya.
Lahir di Gama, Brasil pada tahun 2001, Thiago harus menemukan cara untuk membantu ibunya yang bekerja sumpah setelah ayahnya meninggal saat dia masih kecil. Ia terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan dan membagikan pamflet untuk mencari nafkah. Namun, mentalitas baja itu menjadi kekuatan bagi Thiago seumur hidupnya.
Kariernya dimulai di akademi Cruzeiro, tempat ia menembus tim utama pada 2020. Ia kemudian merantau ke Eropa bersama Ludogorets Razgrad dan Club Brugge sebelum menjadi bagian dari Brentford yang rela memboyongnya dengan biaya £30 juta.
Di London Barat, Thiago menemukan dirinya sebagai "buldoser" di kotak penalti. Dengan tinggi 191 cm, ia adalah ancaman nyata dalam duel udara dan memiliki kemampuan hold-up play yang sangat dibutuhkan di Liga Inggris. Pelatih Brentford, Keith Andrews, memuji Thiago sebagai penyerang yang mengintimidasi lawan.
Musim ini menjadi pembuktian kualitas Thiago. Setelah sempat diganggu cedera lutut di awal kedatangannya, ia bangkit dengan performa sensasional. Ia melampaui rekor Roberto Firmino, Gabriel Martinelli, dan Matheus Cunha sebagai pemain Brasil dengan jumlah gol terbanyak dalam satu musim kompetisi Liga Primer Inggris.
Dengan usia yang masih 24 tahun, Thiago kini digadang-gadang sebagai solusi jangka panjang untuk posisi nomor 9 di Timnas Brasil. Namun, perjuangan keras itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.
Musim 2025/2026 menjadi pembuktian dari kualitas Thiago. Ia bangkit dengan performa sensasional setelah sempat diganggu cedera lutut di awal kedatangannya. Momen kuncinya termasuk hattrick ke gawang Everton pada 4 Januari 2026, yang hanya berselang tiga hari sebelum ia memecahkan rekor saat melawan Sunderland.
Dengan kemampuan fisik prima dan insting pembunuh itu, Thiago menjadi ancaman nyata bagi lawan. Ia mengejar tiket kompetisi Eropa yang sebelumnya dianggap mustahil dengan usia yang masih muda. Namun, perjuangan keras itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.
Igor Thiago adalah contoh nyata dari perjuangan keras yang menjadi filosofi hidupnya. Ia berhasil menembus kulit penguasa dan mencapai kejayaan di Liga Primer Inggris. Namun, perjuangan itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.
Lahir di Gama, Brasil pada tahun 2001, Thiago harus menemukan cara untuk membantu ibunya yang bekerja sumpah setelah ayahnya meninggal saat dia masih kecil. Ia terpaksa bekerja sebagai kuli bangunan dan membagikan pamflet untuk mencari nafkah. Namun, mentalitas baja itu menjadi kekuatan bagi Thiago seumur hidupnya.
Kariernya dimulai di akademi Cruzeiro, tempat ia menembus tim utama pada 2020. Ia kemudian merantau ke Eropa bersama Ludogorets Razgrad dan Club Brugge sebelum menjadi bagian dari Brentford yang rela memboyongnya dengan biaya £30 juta.
Di London Barat, Thiago menemukan dirinya sebagai "buldoser" di kotak penalti. Dengan tinggi 191 cm, ia adalah ancaman nyata dalam duel udara dan memiliki kemampuan hold-up play yang sangat dibutuhkan di Liga Inggris. Pelatih Brentford, Keith Andrews, memuji Thiago sebagai penyerang yang mengintimidasi lawan.
Musim ini menjadi pembuktian kualitas Thiago. Setelah sempat diganggu cedera lutut di awal kedatangannya, ia bangkit dengan performa sensasional. Ia melampaui rekor Roberto Firmino, Gabriel Martinelli, dan Matheus Cunha sebagai pemain Brasil dengan jumlah gol terbanyak dalam satu musim kompetisi Liga Primer Inggris.
Dengan usia yang masih 24 tahun, Thiago kini digadang-gadang sebagai solusi jangka panjang untuk posisi nomor 9 di Timnas Brasil. Namun, perjuangan keras itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.
Musim 2025/2026 menjadi pembuktian dari kualitas Thiago. Ia bangkit dengan performa sensasional setelah sempat diganggu cedera lutut di awal kedatangannya. Momen kuncinya termasuk hattrick ke gawang Everton pada 4 Januari 2026, yang hanya berselang tiga hari sebelum ia memecahkan rekor saat melawan Sunderland.
Dengan kemampuan fisik prima dan insting pembunuh itu, Thiago menjadi ancaman nyata bagi lawan. Ia mengejar tiket kompetisi Eropa yang sebelumnya dianggap mustahil dengan usia yang masih muda. Namun, perjuangan keras itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.
Igor Thiago adalah contoh nyata dari perjuangan keras yang menjadi filosofi hidupnya. Ia berhasil menembus kulit penguasa dan mencapai kejayaan di Liga Primer Inggris. Namun, perjuangan itu tidak akan berakhir di sini. Thiago harus terus berjuang dan meningkatkan kemampuan dirinya untuk mencapai kejayaan yang lebih besar.