Banyak orang berlaku tidak menyadari bahwa mainan digital bukanlah satu-satunya cara untuk menghibur anak-anak. Kita sering melihat anak-anak bermain dengan gawai di rumah, bukannya bersama keluarga atau teman. Saya ingin mengajak kita kembali ingat bagaimana dulu kita tertawa-tawa kecil saat menyusun puzzle, mewarnai buku gambar, bermain lego dengan kakak atau adik, atau mengobrol seru di atas papan permainan. Kita bisa mencoba melakukan hal yang sama tanpa melibatkan gawai.
Di era teknologi saat ini, kita sering lupa bahwa kebersamaan tak selalu butuh teknologi. Ada banyak momen sederhana yang bisa menguatkan ikatan orang tua dan anak. Mencari harta karun di rumah bukanlah ide yang baru. Anak-anak bisa mencari harta karun tersembunyi di sekitar rumah, termasuk alat-alat rumah tangga. Permainan ini merupakan gabungan pemecahan masalah dan berpikir kritis sambil tetap aktif bergerak.
Selain itu, kita juga bisa mencoba berbagai kegiatan lain seperti bernyanyi dan menari bersama, mewarnai gambar, teka-teki bergilir, petak umpet, origami, membacakan buku cerita/dongeng, lomba lari estafet, adonan mainan play-dough, bermain lego, bermain catur, dan bermain monopoli. Kegiatan-kegiatan ini bisa menguatkan ikatan orang tua dan anak, serta meningkatkan keterampilan motorik halus, logika, dan kesabaran.
Tentu saja kita tidak bisa menghindari kehadiran teknologi dalam hidup sehari-hari. Namun, dengan menemukan keseimbangan antara aktivitas digital dan non-digital, kita bisa membuat anak-anak tetap aktif, bahagia, dan terhibur tanpa harus bergantung pada gawai.
Di era teknologi saat ini, kita sering lupa bahwa kebersamaan tak selalu butuh teknologi. Ada banyak momen sederhana yang bisa menguatkan ikatan orang tua dan anak. Mencari harta karun di rumah bukanlah ide yang baru. Anak-anak bisa mencari harta karun tersembunyi di sekitar rumah, termasuk alat-alat rumah tangga. Permainan ini merupakan gabungan pemecahan masalah dan berpikir kritis sambil tetap aktif bergerak.
Selain itu, kita juga bisa mencoba berbagai kegiatan lain seperti bernyanyi dan menari bersama, mewarnai gambar, teka-teki bergilir, petak umpet, origami, membacakan buku cerita/dongeng, lomba lari estafet, adonan mainan play-dough, bermain lego, bermain catur, dan bermain monopoli. Kegiatan-kegiatan ini bisa menguatkan ikatan orang tua dan anak, serta meningkatkan keterampilan motorik halus, logika, dan kesabaran.
Tentu saja kita tidak bisa menghindari kehadiran teknologi dalam hidup sehari-hari. Namun, dengan menemukan keseimbangan antara aktivitas digital dan non-digital, kita bisa membuat anak-anak tetap aktif, bahagia, dan terhibur tanpa harus bergantung pada gawai.