Menonton drama China saat Ramadhan, apakah itu diperbolehkan dalam Islam? Jawabannya sederhana dan tidak menipu. Menurut para ulama dan ahli fikih, menonton tayangan hiburan seperti drama China bukanlah hal yang membatalkan puasa secara langsung. Namun, persoalan ini jauh lebih kompleks daripada itu.
Menurut ayat Al-Quran, "Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187). Dengan demikian, menonton drama China tidak secara eksplisit membatalkan puasa, tetapi persoalan tersebut bukan sekadar sah atau batal, melainkan juga kualitas dan pahala puasa itu sendiri.
Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat, ucapan kotor, dan hal-hal yang melalaikan dapat mengurangi bahanya pun pahala puasa.
Selain itu, jika drama China yang ditonton memiliki adegan atau dialog yang dikhawatirkan dapat memberikan rangsangan yang tidak diperbolehkan selama ibadah puasa, maka menontonnya dapat mengurangi pahala puasa, bahkan berpotensi menjerumuskan pada dosa. Allah SWT. berfirman: "Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya." (QS. An-Nur: 30).
Jika drama China yang ditonton tidak memiliki adegan atau dialog yang dapat menjerumuskan ke tindakan dosa, maka hukum menontonnya cenderung mubah (boleh). Namun, tetap perlu diingat bahwa mubah bukan berarti dianjurkan, apalagi jika waktu Ramadhan justru dihabiskan untuk hiburan semata.
Rasulullah SAW. bersabda: "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus." (HR. Ahmad). Hadis ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan Ramadhan dengan aktivitas yang minim nilai ibadah.
Menonton drama China saat Ramadhan bukanlah hal yang membatalkan puasa secara langsung, tetapi dapat mengurangi pahala puasa jika melalaikan ibadah. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya menyesuaikan aktivitas mereka dengan nilai-nilai ibadah dan menjaga kemaluannya agar mendapatkan pahala yang lebih baik dari puasa.
Menurut ayat Al-Quran, "Makan dan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam." (QS. Al-Baqarah: 187). Dengan demikian, menonton drama China tidak secara eksplisit membatalkan puasa, tetapi persoalan tersebut bukan sekadar sah atau batal, melainkan juga kualitas dan pahala puasa itu sendiri.
Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya." (HR. Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat, ucapan kotor, dan hal-hal yang melalaikan dapat mengurangi bahanya pun pahala puasa.
Selain itu, jika drama China yang ditonton memiliki adegan atau dialog yang dikhawatirkan dapat memberikan rangsangan yang tidak diperbolehkan selama ibadah puasa, maka menontonnya dapat mengurangi pahala puasa, bahkan berpotensi menjerumuskan pada dosa. Allah SWT. berfirman: "Katakanlah kepada orang-orang mukmin agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya." (QS. An-Nur: 30).
Jika drama China yang ditonton tidak memiliki adegan atau dialog yang dapat menjerumuskan ke tindakan dosa, maka hukum menontonnya cenderung mubah (boleh). Namun, tetap perlu diingat bahwa mubah bukan berarti dianjurkan, apalagi jika waktu Ramadhan justru dihabiskan untuk hiburan semata.
Rasulullah SAW. bersabda: "Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan haus." (HR. Ahmad). Hadis ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak menyia-nyiakan Ramadhan dengan aktivitas yang minim nilai ibadah.
Menonton drama China saat Ramadhan bukanlah hal yang membatalkan puasa secara langsung, tetapi dapat mengurangi pahala puasa jika melalaikan ibadah. Oleh karena itu, umat Islam sebaiknya menyesuaikan aktivitas mereka dengan nilai-nilai ibadah dan menjaga kemaluannya agar mendapatkan pahala yang lebih baik dari puasa.