Jepang Dihantam Hujan Salju Ekstrem, Meninggal Dunia Lebih dari 35 Orang
Badai salju ekstrem yang melanda Jepang sejak akhir Januari telah menimpa korban jiwa yang tidak terduga. Menurut data Badan Pemadam Kebakaran dan Manajemen Bencana, hingga Rabu (4 Februari) hujan salju ekstrem tersebut telah menyebabkan 35 orang meninggal dunia dan lebih dari ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Kondisi cuaca yang ekstrem di wilayah utara Jepang, seperti Aomori, sangat memperburuk situasi. Tumpukan salju setinggi dua meter membuat warga kesulitan beraktivitas dan memaksa sekolah dan tempat usaha tutup. Kenaikan suhu yang tiba-tiba juga meningkatkan risiko jatuhnya bongkahan salju basah dan berat dari atap rumah.
"Warga yang terkena dampak diminta berhati-hati dan tetap waspada terhadap salju yang jatuh dan longsor salju," kata Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Masanao Ozaki dalam konferensi pers.
Badai salju ekstrem di Jepang juga telah menyebabkan sejumlah bangunan runtuh dan gangguan lalu lintas yang parah. Meski ketebalan salju di Aomori mulai berkurang, warga masih menghadapi kesulitan untuk beraktivitas karena kondisi cuaca yang ekstrem.
Sementara itu, pemerintah Jepang telah mengerahkan pasukan militer untuk membantu membersihkan tumpukan salju besar di wilayah utara. Peramal cuaca memperingatkan bahwa gelombang udara dingin diperkirakan kembali akhir pekan ini dan berpotensi membawa hujan salju tambahan ke kota-kota di utara.
Selain itu, badai salju ekstrem ini juga menimpa korban jiwa di wilayah lain, seperti Niigata. Di sana, seorang pria ditemukan tewas setelah garasi tempat tinggalnya ambruk akibat beban salju tebal.
Badai salju ekstrem yang melanda Jepang sejak akhir Januari telah menimpa korban jiwa yang tidak terduga. Menurut data Badan Pemadam Kebakaran dan Manajemen Bencana, hingga Rabu (4 Februari) hujan salju ekstrem tersebut telah menyebabkan 35 orang meninggal dunia dan lebih dari ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Kondisi cuaca yang ekstrem di wilayah utara Jepang, seperti Aomori, sangat memperburuk situasi. Tumpukan salju setinggi dua meter membuat warga kesulitan beraktivitas dan memaksa sekolah dan tempat usaha tutup. Kenaikan suhu yang tiba-tiba juga meningkatkan risiko jatuhnya bongkahan salju basah dan berat dari atap rumah.
"Warga yang terkena dampak diminta berhati-hati dan tetap waspada terhadap salju yang jatuh dan longsor salju," kata Wakil Kepala Sekretaris Kabinet Masanao Ozaki dalam konferensi pers.
Badai salju ekstrem di Jepang juga telah menyebabkan sejumlah bangunan runtuh dan gangguan lalu lintas yang parah. Meski ketebalan salju di Aomori mulai berkurang, warga masih menghadapi kesulitan untuk beraktivitas karena kondisi cuaca yang ekstrem.
Sementara itu, pemerintah Jepang telah mengerahkan pasukan militer untuk membantu membersihkan tumpukan salju besar di wilayah utara. Peramal cuaca memperingatkan bahwa gelombang udara dingin diperkirakan kembali akhir pekan ini dan berpotensi membawa hujan salju tambahan ke kota-kota di utara.
Selain itu, badai salju ekstrem ini juga menimpa korban jiwa di wilayah lain, seperti Niigata. Di sana, seorang pria ditemukan tewas setelah garasi tempat tinggalnya ambruk akibat beban salju tebal.