Gelombang super flu di Bali: Kesi-kesi itu normal, kata Menteri Kesehatan.
Kemarin malam, Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan klarifikasi mengenai dua kasus kematian akibat influenza A (H3N2) subclade K yang terdeteksi di Bali. Ia menyatakan bahwa super flu bukanlah penyakit baru yang membawa bahaya kematian tinggi, melainkan merupakan varian flu biasa dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang sangat tinggi.
Menurut Budi, dua pasien yang terkena super flu di Bali telah mengalami gejala seperti demam dan kesulitan bernapas. Namun, karena kemampuan pengobatannya yang baik, kedua pasien tersebut sekarang sudah pulih dan sembuh pada akhir tahun lalu.
"Kesi-kesi ini bukanlah hal baru, karena setiap tahunnya flu K subclade terdeteksi di Indonesia," kata Budi. Ia menambahkan bahwa super flu sering terjadi saat sistem kekebalan tubuh menurun atau terjadi perubahan cuaca ekstrem.
Menurut Chair of Indonesian Pulmonologist Association's Honorary Council (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, pemantauan keberadaan virus influenza di Indonesia harus dilakukan secara rutin dan dibuat perhatian publik. Ia menilai bahwa meskipun super flu dikatakan memiliki risiko kematian yang rendah, beberapa negara di dunia seperti China dan Taiwan memang mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit ini secara rutin.
Di China, pusat pengawasan penyebaran penyakit (CDC) melaporkan positivitas influenza sebanyak 27,4 persen. Sedangkan di Taiwan, badan pengawas penyakit menampung 91.842 pasien flu dari tanggal 4-10 Januari.
Kemarin malam, Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan klarifikasi mengenai dua kasus kematian akibat influenza A (H3N2) subclade K yang terdeteksi di Bali. Ia menyatakan bahwa super flu bukanlah penyakit baru yang membawa bahaya kematian tinggi, melainkan merupakan varian flu biasa dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang sangat tinggi.
Menurut Budi, dua pasien yang terkena super flu di Bali telah mengalami gejala seperti demam dan kesulitan bernapas. Namun, karena kemampuan pengobatannya yang baik, kedua pasien tersebut sekarang sudah pulih dan sembuh pada akhir tahun lalu.
"Kesi-kesi ini bukanlah hal baru, karena setiap tahunnya flu K subclade terdeteksi di Indonesia," kata Budi. Ia menambahkan bahwa super flu sering terjadi saat sistem kekebalan tubuh menurun atau terjadi perubahan cuaca ekstrem.
Menurut Chair of Indonesian Pulmonologist Association's Honorary Council (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, pemantauan keberadaan virus influenza di Indonesia harus dilakukan secara rutin dan dibuat perhatian publik. Ia menilai bahwa meskipun super flu dikatakan memiliki risiko kematian yang rendah, beberapa negara di dunia seperti China dan Taiwan memang mengambil langkah-langkah untuk mencegah penyebaran penyakit ini secara rutin.
Di China, pusat pengawasan penyebaran penyakit (CDC) melaporkan positivitas influenza sebanyak 27,4 persen. Sedangkan di Taiwan, badan pengawas penyakit menampung 91.842 pasien flu dari tanggal 4-10 Januari.