Dalam lingkungan sosial kita sering terkena dugaan bahwa ada orang yang "haus" mencari perhatian. Meskipun kebiasaan ini mungkin terdengar berat, tapi sebenarnya menimbulkan tiga alasan: Pertama, caper itu bisa jadi naluri manusia untuk bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Kita sudah terprogram untuk ingin diperhatikan sebagai bagian dari kebutuhan dasar kita untuk koneksi dan terhubung dengan orang lain.
Kedua, sering kali ada kebutuhan untuk tetap terhubung dalam masyarakat. Ceper itu bisa menjadi sinyal bahwa seseorang merasa kehilangan kontak sosial atau ingin dilihat oleh orang lain. Pada dasarnya, perhatian adalah koneksi yang membuat kita merasa aman dan dicintai.
Ketiga, banyak orang mencari perhatian karena ada kurangnya emosional dalam hidup mereka. Hal ini bisa jadi sejak kecil, seperti semakin sedikit seseorang mendapatkan perhatian atau pujian, maka semakin besar rasa laparnya dan dicapai dia akan "tidak ada habisnya".
Namun, penting untuk membedakan perilaku cari perhatian yang wajar dari caper berlebihan. Caranya adalah dengan mengerti motivasi dan pola dari seseorang. Apakah mereka mencari perhatian karena kebutuhan sosialisasi atau karena keinginan untuk mendapatkan pujian? Jika perilaku itu terjadi secara berkala, dalam situasi yang jelas, dan bersifat fleksibel maka bukan caper berlebihan.
Perlu diingat bahwa mencari perhatian memang bukan hal buruk. Ini bisa menjadi bagian dari motivasi kita untuk mengekspresikan diri dan berprestasi. Yang penting adalah tidak menggantung segala keputusan kita pada validasi orang lain dan tetap menjaga harga diri kita sendiri.
Karena itu, caranya bukan memperlakukan seseorang yang mencari perhatian dengan kemarahan atau reaksi emosional, melainkan ajak mereka untuk menenangkan diri dan berbicara tentang kebutuhan mereka secara terbuka. Ini adalah cara membela diri yang benar tanpa membuat situasi semakin buruk.
Jika kita bisa memahami motif sebenarnya seseorang mencari perhatian, kita akan lebih mudah untuk mendukung mereka dalam mengembangkan pola perilaku yang lebih bermakna.
Kedua, sering kali ada kebutuhan untuk tetap terhubung dalam masyarakat. Ceper itu bisa menjadi sinyal bahwa seseorang merasa kehilangan kontak sosial atau ingin dilihat oleh orang lain. Pada dasarnya, perhatian adalah koneksi yang membuat kita merasa aman dan dicintai.
Ketiga, banyak orang mencari perhatian karena ada kurangnya emosional dalam hidup mereka. Hal ini bisa jadi sejak kecil, seperti semakin sedikit seseorang mendapatkan perhatian atau pujian, maka semakin besar rasa laparnya dan dicapai dia akan "tidak ada habisnya".
Namun, penting untuk membedakan perilaku cari perhatian yang wajar dari caper berlebihan. Caranya adalah dengan mengerti motivasi dan pola dari seseorang. Apakah mereka mencari perhatian karena kebutuhan sosialisasi atau karena keinginan untuk mendapatkan pujian? Jika perilaku itu terjadi secara berkala, dalam situasi yang jelas, dan bersifat fleksibel maka bukan caper berlebihan.
Perlu diingat bahwa mencari perhatian memang bukan hal buruk. Ini bisa menjadi bagian dari motivasi kita untuk mengekspresikan diri dan berprestasi. Yang penting adalah tidak menggantung segala keputusan kita pada validasi orang lain dan tetap menjaga harga diri kita sendiri.
Karena itu, caranya bukan memperlakukan seseorang yang mencari perhatian dengan kemarahan atau reaksi emosional, melainkan ajak mereka untuk menenangkan diri dan berbicara tentang kebutuhan mereka secara terbuka. Ini adalah cara membela diri yang benar tanpa membuat situasi semakin buruk.
Jika kita bisa memahami motif sebenarnya seseorang mencari perhatian, kita akan lebih mudah untuk mendukung mereka dalam mengembangkan pola perilaku yang lebih bermakna.