Harga Minyak Dunia Mulai Mendidih, Tersulut Kemelut AS-Iran
Kenaikan harga minyak dunia kembali mengalami pertumbuhan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (16/1/2026). Harga minyak mentah berjangka Brent meningkat 0,58% ke level US$ 64,13 per barel. Kenaikan ini terjadi dalam tengah volume perdagangan yang dipengaruhi oleh faktor teknikal, di mana investor cenderung menghindari risiko memegang open position selama libur peringatan Martin Luther King Jr. Day.
Spekulasi pasar mengenai potensi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan regional. Laporan mengenai pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln menuju kawasan Teluk Persia telah memperkuat sentimen tersebut.
Namun, fundamental pasokan global yang dinilai masih sangat memadai (ample supply) juga menghambat kenaikan harga. Pasokan minyak global tetap stabil, dan kekhawatiran awal mengenai membanjirnya pasokan minyak dari Venezuela belum sepenuhnya terealisasi secara masif.
Analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn, menyebutkan bahwa pasokan minyak global masih memadai dan tidak ada adanya pemulihan permintaan yang signifikan dari China. Sejumlah analis memproyeksikan bahwa harga minyak akan bergerak dalam rentang terbatas (range-bound) sepanjang tahun ini.
Harga minyak dunia sedang mengalami pergeseran struktur harga yang signifikan, dan pasar global telah beralih dari kondisi pasokan ketat menjadi surplus pasokan. Namun, dalam jangka pendek, pasar menunjukkan ketahanan teknikal. Pemulihan harga dari level terendah US$ 59,96 pada awal Januari menjadi US$ 64,13 pada penutupan pekan ini menunjukkan bahwa level psikologis US$ 60 berfungsi sebagai support yang solid.
Dengan demikian, pasar saat ini dapat dikatakan berada dalam fase konsolidasi. Tarik-menarik antara sentimen geopolitik yang mendongkrak harga dan realitas pasokan melimpah yang menekan harga akan menciptakan volatilitas jangka pendek, namun dengan ruang gerak yang terbatas.
Namun secara jangka panjang, jika proyek Venezuela dan Amerika Serikat berjalan lancar maka harga minyak dunia akan condong menurun mengingat supply yang akan semakin berlimpah seiring dengan berjalannya waktu.
Kenaikan harga minyak dunia kembali mengalami pertumbuhan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (16/1/2026). Harga minyak mentah berjangka Brent meningkat 0,58% ke level US$ 64,13 per barel. Kenaikan ini terjadi dalam tengah volume perdagangan yang dipengaruhi oleh faktor teknikal, di mana investor cenderung menghindari risiko memegang open position selama libur peringatan Martin Luther King Jr. Day.
Spekulasi pasar mengenai potensi ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kembali kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan regional. Laporan mengenai pergerakan kapal induk USS Abraham Lincoln menuju kawasan Teluk Persia telah memperkuat sentimen tersebut.
Namun, fundamental pasokan global yang dinilai masih sangat memadai (ample supply) juga menghambat kenaikan harga. Pasokan minyak global tetap stabil, dan kekhawatiran awal mengenai membanjirnya pasokan minyak dari Venezuela belum sepenuhnya terealisasi secara masif.
Analis senior di Price Futures Group, Phil Flynn, menyebutkan bahwa pasokan minyak global masih memadai dan tidak ada adanya pemulihan permintaan yang signifikan dari China. Sejumlah analis memproyeksikan bahwa harga minyak akan bergerak dalam rentang terbatas (range-bound) sepanjang tahun ini.
Harga minyak dunia sedang mengalami pergeseran struktur harga yang signifikan, dan pasar global telah beralih dari kondisi pasokan ketat menjadi surplus pasokan. Namun, dalam jangka pendek, pasar menunjukkan ketahanan teknikal. Pemulihan harga dari level terendah US$ 59,96 pada awal Januari menjadi US$ 64,13 pada penutupan pekan ini menunjukkan bahwa level psikologis US$ 60 berfungsi sebagai support yang solid.
Dengan demikian, pasar saat ini dapat dikatakan berada dalam fase konsolidasi. Tarik-menarik antara sentimen geopolitik yang mendongkrak harga dan realitas pasokan melimpah yang menekan harga akan menciptakan volatilitas jangka pendek, namun dengan ruang gerak yang terbatas.
Namun secara jangka panjang, jika proyek Venezuela dan Amerika Serikat berjalan lancar maka harga minyak dunia akan condong menurun mengingat supply yang akan semakin berlimpah seiring dengan berjalannya waktu.