Harga komoditas unggulan Indonesia terus mengalami penurunan, dari dua digit sampai di bawah satu digit. Komoditas ini adalah minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan batu bara. Harga CPO turun 16,2 persen, sedangkan harga batubara mencapai 19,7 persen. Penurunan harga ini membuat kerugian bagi pemangkas surplus neraca perdagangan Indonesia.
Meski demikian, nilai ekspor nasional pada periode Januari-Desember 2025 masih mengalami pertumbuhan. Ekspor non-migas mencapai 7,66 persen. Namun, penurunan harga komoditas utama masih membuat kerugian bagi kinerja ekspor utama.
Dengan demikian, surplu neraca perdagangan Indonesia meningkat menjadi 41,05 miliar dolar AS sepanjang 2025. Surplus ini telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut.
Pengakuan Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, bahwa penurunan harga komoditas utama ini akan mempengaruhi kinerja ekspor utama. Namun, dia juga mengatakan bahwa Indonesia tetap dapat meningkatkan ekspor dengan meneruskan upaya yang telah dilakukan.
Dengan demikian, kerugian dari penurunan harga komoditas unggulan ini masih menjadi tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan kinerja ekspor.
Meski demikian, nilai ekspor nasional pada periode Januari-Desember 2025 masih mengalami pertumbuhan. Ekspor non-migas mencapai 7,66 persen. Namun, penurunan harga komoditas utama masih membuat kerugian bagi kinerja ekspor utama.
Dengan demikian, surplu neraca perdagangan Indonesia meningkat menjadi 41,05 miliar dolar AS sepanjang 2025. Surplus ini telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut.
Pengakuan Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, bahwa penurunan harga komoditas utama ini akan mempengaruhi kinerja ekspor utama. Namun, dia juga mengatakan bahwa Indonesia tetap dapat meningkatkan ekspor dengan meneruskan upaya yang telah dilakukan.
Dengan demikian, kerugian dari penurunan harga komoditas unggulan ini masih menjadi tantangan bagi Indonesia dalam meningkatkan kinerja ekspor.