Mengenai peningkatan harga daging sapi di pasar tradisional, sejumlah pedagang yang mengelilingi kawasan BSD memutuskan untuk tidak menjual daging sapi saat ini. Harga yang mencapai Rp140 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram membuat mereka khawatir penjualan akan berkurang, terutama di tengah kesulitan daya beli masyarakat.
Menurut Andrian Lame Muhar, Sekretaris Umum INKOPPAS, pedagang memilih untuk menghentikan aktivitas penjualan. "Mereka berpikir bahwa dengan menjual pada harga terlalu tinggi, akan menurunkan jumlah pembeli, terutama di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Daripada biaya stok menjadi terlalu tinggi, lebih baik mereka sementara menghentikan penjualan," kata Lame.
Aksi mogok berjualan ini terjadi di beberapa kawasan pasar tradisional, termasuk Rawamangun dan Parung Panjang. Pedagang daging di Rawamangun menyatakan tidak akan berjualan hingga kondisi pasar kembali membaik.
Menurut Lame, peningkatan harga daging sapi terjadi sejak beberapa bulan yang lalu dan dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, kebijakan pemerintah yang memperketat impor. Kedua, negara-negara pengekspor tengah menata ulang strategi ekspor mereka. Ketiga, meningkatnya biaya impor anakan sapi, termasuk kebutuhan pakan dan kandang yang diperburuk oleh cuaca buruk.
"Dimana kita memasuki libur panjang kemarin dan sebentar lagi Ramadan, permintaan sedang tinggi tapi pasokan sedikit. Ada ketimpangan antara suplai dan permintaan," kata Lame.
Selain itu, isu adanya pengusaha yang menyimpan stok daging untuk persiapan dapur umum dalam program Bergizi Gratis Nasional juga menambahkan tekanan pada pedagang.
Menurut Andrian Lame Muhar, Sekretaris Umum INKOPPAS, pedagang memilih untuk menghentikan aktivitas penjualan. "Mereka berpikir bahwa dengan menjual pada harga terlalu tinggi, akan menurunkan jumlah pembeli, terutama di tengah melemahnya daya beli masyarakat. Daripada biaya stok menjadi terlalu tinggi, lebih baik mereka sementara menghentikan penjualan," kata Lame.
Aksi mogok berjualan ini terjadi di beberapa kawasan pasar tradisional, termasuk Rawamangun dan Parung Panjang. Pedagang daging di Rawamangun menyatakan tidak akan berjualan hingga kondisi pasar kembali membaik.
Menurut Lame, peningkatan harga daging sapi terjadi sejak beberapa bulan yang lalu dan dipicu oleh beberapa faktor. Pertama, kebijakan pemerintah yang memperketat impor. Kedua, negara-negara pengekspor tengah menata ulang strategi ekspor mereka. Ketiga, meningkatnya biaya impor anakan sapi, termasuk kebutuhan pakan dan kandang yang diperburuk oleh cuaca buruk.
"Dimana kita memasuki libur panjang kemarin dan sebentar lagi Ramadan, permintaan sedang tinggi tapi pasokan sedikit. Ada ketimpangan antara suplai dan permintaan," kata Lame.
Selain itu, isu adanya pengusaha yang menyimpan stok daging untuk persiapan dapur umum dalam program Bergizi Gratis Nasional juga menambahkan tekanan pada pedagang.