Pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang terlambat mundur, Gus Yahya Cholil Staquf, menyatakan bahwa semua pihak yang pernah bertikai di dalam partai telah menyelesaikan masalahnya setelah melakukan islah. Isi islah tersebut terungkap pada 25 Desember 2025 lalu, ketika para pimpinan NU bertemu dengan para kiai sepuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur.
Gus Yahya menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian ini diterapkan untuk menghapus segala perbedaan dan perselisihan yang ada di kalangan petinggi NU. Dalam kesepakatan tersebut, para pimpinan dan pihak lainnya kembali kepada asal keberadaan PBNU sebelum terjadi perselisihan.
Gus Yahya juga menyerukan semua pihak yang pernah bertikai untuk hadir berpartisipasi dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 tahun besok pagi di Istora Senayan. Harlah merupakan perayaan diraja NU yang ditandai dengan peresmian perpustakaan, penutupan gedung, dan lain-lain.
Gus Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian ini terjadi setelah para pihak bertemu dengan para kiai sepuh NU yang meminta agar seluruh pihak menahan diri. Dalam kesepakatan tersebut, arahannya adalah untuk islah diterapkan.
Kesepakatan perdamaian ini berawal dari konflik di kalangan petinggi PBNU yang berawal dari surat hasil rapat pengurus harian Syuriah PBNU pada 20 November 2025. Gus Yahya Cholil Staquf dinilai telah melakukan pelanggaran karena menghadirkan narasumber yang dianggap terkait jaringan zionisme internasional dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).
Gus Yahya menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian ini diterapkan untuk menghapus segala perbedaan dan perselisihan yang ada di kalangan petinggi NU. Dalam kesepakatan tersebut, para pimpinan dan pihak lainnya kembali kepada asal keberadaan PBNU sebelum terjadi perselisihan.
Gus Yahya juga menyerukan semua pihak yang pernah bertikai untuk hadir berpartisipasi dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 tahun besok pagi di Istora Senayan. Harlah merupakan perayaan diraja NU yang ditandai dengan peresmian perpustakaan, penutupan gedung, dan lain-lain.
Gus Yahya Cholil Staquf menyatakan bahwa kesepakatan perdamaian ini terjadi setelah para pihak bertemu dengan para kiai sepuh NU yang meminta agar seluruh pihak menahan diri. Dalam kesepakatan tersebut, arahannya adalah untuk islah diterapkan.
Kesepakatan perdamaian ini berawal dari konflik di kalangan petinggi PBNU yang berawal dari surat hasil rapat pengurus harian Syuriah PBNU pada 20 November 2025. Gus Yahya Cholil Staquf dinilai telah melakukan pelanggaran karena menghadirkan narasumber yang dianggap terkait jaringan zionisme internasional dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU).