Bangkalan, 5 Januari 2026. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mengawal langsung rangkaian kegiatan Napak Tilas Jejak Restu Pendirian NU yang menempuh rute Bangkalan-Jombang.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak sejarah dan perjalanan spiritual lahirnya NU atas restu para muassis. Sejak Minggu (4/1/2025), Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan.
Gus Yahya menegaskan bahwa napak tilas tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya menghadirkan kembali kesadaran spiritual tentang fondasi berdirinya NU. Menurutnya, napak tilas ini merupakan upaya untuk mengingatkan kembali peran penting para guru dan ulama dalam membangun jam'iyah yang berkhidmat.
Gus Yahya juga menekankan bahwa yang dijaga oleh para pengurus NU bukan semata struktur organisasi, melainkan amanah ruhani yang diwariskan para pendiri. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki pesan penting bagi kepemimpinan NU di masa kini.
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang, dengan penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih dalam prosesi tersebuy. KHR Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As'ad akan menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy'ari, untuk kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan selanjutnya diserahkan kepada Ketua Umum PBNU.
Kegiatan napak tilas ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan pentingnya memahami fondasi berdirinya NU.
Kegiatan ini menjadi momentum untuk menelusuri kembali jejak sejarah dan perjalanan spiritual lahirnya NU atas restu para muassis. Sejak Minggu (4/1/2025), Gus Yahya berada di kompleks Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Bangkalan.
Gus Yahya menegaskan bahwa napak tilas tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya menghadirkan kembali kesadaran spiritual tentang fondasi berdirinya NU. Menurutnya, napak tilas ini merupakan upaya untuk mengingatkan kembali peran penting para guru dan ulama dalam membangun jam'iyah yang berkhidmat.
Gus Yahya juga menekankan bahwa yang dijaga oleh para pengurus NU bukan semata struktur organisasi, melainkan amanah ruhani yang diwariskan para pendiri. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini memiliki pesan penting bagi kepemimpinan NU di masa kini.
Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung di Tebuireng, Jombang, dengan penyerahan simbol-simbol sejarah berupa tongkat dan tasbih dalam prosesi tersebuy. KHR Ach. Azaim Ibrahimy selaku dzurriyah Kiai As'ad akan menyerahkan pusaka tersebut kepada perwakilan dzurriyah KH Hasyim Asy'ari, untuk kemudian diteruskan kepada Rais Aam PBNU dan selanjutnya diserahkan kepada Ketua Umum PBNU.
Kegiatan napak tilas ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan pentingnya memahami fondasi berdirinya NU.