Belanja masyarakat menurut Guru Besar Undip: Turun dan terus turun
Kemungkinan penurunan konsumsi di Indonesia berlangsung dalam jangka panjang, bukan pendek. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Undip) Firmansyah, pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dapat menimbulkan dampak penurunan konsumsi di masyarakat dalam jangka pendek.
Penggunaan model ekonomi makro dinamis Overlapping Generations-Indonesia (OG-IDN) yang dikembangkan bersama Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA) menunjukkan bahwa penurunan konsumsi berlangsung di semua lapisan masyarakat. Namun, penurunan konsumsi terbesar dialami oleh kelompok masyarakat kalangan bawah dan kalangan atas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan konsumsi jangka pendek dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat untuk menyimpan uang tunai. Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki tabungan cenderung tidak akan berbelanja karena mereka ingin menyimpan uang untuk kebutuhan di masa depan.
Dengan demikian, penurunan konsumsi ini bukan merupakan dampak dari kebijakan yang regresif, melainkan transisi intertemporal. Pemerintah dan perusahaan memilih untuk menghemat pengeluaran sekarang untuk meningkatkan pendapatan di masa depan.
Penelitian ini tidak menunjukkan bahwa penawaran lebih baik daripada penentangan dalam meningkatkan konsumsi. Sebaliknya, BPI Danantara adalah contoh dari reformasi sisi penawaran yang dapat memengaruhi dampak terhadap masyarakat secara signifikan.
Kemungkinan penurunan konsumsi di Indonesia berlangsung dalam jangka panjang, bukan pendek. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Undip) Firmansyah, pembentukan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dapat menimbulkan dampak penurunan konsumsi di masyarakat dalam jangka pendek.
Penggunaan model ekonomi makro dinamis Overlapping Generations-Indonesia (OG-IDN) yang dikembangkan bersama Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB (UNDESA) menunjukkan bahwa penurunan konsumsi berlangsung di semua lapisan masyarakat. Namun, penurunan konsumsi terbesar dialami oleh kelompok masyarakat kalangan bawah dan kalangan atas.
Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan konsumsi jangka pendek dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat untuk menyimpan uang tunai. Dengan kata lain, orang-orang yang memiliki tabungan cenderung tidak akan berbelanja karena mereka ingin menyimpan uang untuk kebutuhan di masa depan.
Dengan demikian, penurunan konsumsi ini bukan merupakan dampak dari kebijakan yang regresif, melainkan transisi intertemporal. Pemerintah dan perusahaan memilih untuk menghemat pengeluaran sekarang untuk meningkatkan pendapatan di masa depan.
Penelitian ini tidak menunjukkan bahwa penawaran lebih baik daripada penentangan dalam meningkatkan konsumsi. Sebaliknya, BPI Danantara adalah contoh dari reformasi sisi penawaran yang dapat memengaruhi dampak terhadap masyarakat secara signifikan.