Kegagalan sistem pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam membantu kesulitan anak SD kelas IV yang bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pensil. Gubernur NTT, Melki Laka Lena, menilai kejadian ini sebagai "tamparan keras bagi pemerintah" dan katakan bahwa sistem pemerintahan di tingkat provinsi dan kabupaten Ngada gagal dalam mendeteksi dan membantu anak tersebut.
Kasus ini membangkitkan perdebatan tentang kesadahan pemerintahan dalam menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia yang menghadapi kesulitan ekonomi. Gubernur Melki Laka Lena menambahkan bahwa kegagalan sistem ini tidak hanya membahayakan satu individu, tapi juga membahayakan keseluruhan masyarakat.
"Apapun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan," kata Gubernur Melki Laka Lena. "Ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua."
Gubernur juga menekankan bahwa pemerintah tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi di wilayah provinsi NTT dan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan masyarakat untuk mencegah hal yang sama terjadi kembali.
Kasus ini membangkitkan perdebatan tentang kesadahan pemerintahan dalam menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia yang menghadapi kesulitan ekonomi. Gubernur Melki Laka Lena menambahkan bahwa kegagalan sistem ini tidak hanya membahayakan satu individu, tapi juga membahayakan keseluruhan masyarakat.
"Apapun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan," kata Gubernur Melki Laka Lena. "Ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua."
Gubernur juga menekankan bahwa pemerintah tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi di wilayah provinsi NTT dan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan masyarakat untuk mencegah hal yang sama terjadi kembali.