Kemiskinan dan Kurangnya Pemerataan, Kenapa Anak SD Bunuh Diri di NTT?
Kebalikan dari harapan, 10 tahunan itu bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli buku dan pensil. Suratnya untuk ibunya masih terasa jauh
Rakyat Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini menyesali keputusannya dalam menyediakan bantuan sosial bagi mereka yang membutuhkan. Melki Laka Lena, Gubernur NTT, mengatakan keluarga dari bocah SD yang bunuh diri di Ngada tidak masuk dalam keluarga yang menerima bantuan sosial dari pemerintah.
"Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang," kata Melki, mengungkapkan bahwa data penduduk korban belum terdaftar dengan benar. Dia melansir sumbernya dari Antara.
Pernyataan ini ditujukan kepada keluarga dari bocah SD yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pensil. Melki berharap pemerintah setempat segera membereskan hal tersebut, karena hal ini hanya menyangkut selembar kertas.
"Tapi sayangnya masih begitu. Segera bereskan, yang begini-begini kan seharusnya tidak terjadi," ujarnya dengan penuh kesedihan.
Melki berjanji tidak ingin menyalahkan siapa-siapa yang menjadi penyebab orang tua korban tidak menerima bantuan. Dia juga berharap kejadian serupa tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.
Saat ini, Melki memerintahkan agar semua kepala daerah benar-benar mendata keluarga miskin yang layak menerima bantuan sosial.
Ia mengakui ada kegagalan sistem yang ada di tingkat provinsi, lalu Kabupaten Ngada hingga ke tingkat bawah. Hal ini memicu bocah kelas IV SD itu meninggal dunia dengan cara gantung diri.
"Apapun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan," tegasnya.
Pernyataan Melki mengungkapkan bahwa korban sebenarnya memiliki kesulitan dalam hidupnya. Dia sempat menulis surat untuk ibunya.
Kebalikan dari harapan, 10 tahunan itu bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli buku dan pensil. Suratnya untuk ibunya masih terasa jauh
Rakyat Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), saat ini menyesali keputusannya dalam menyediakan bantuan sosial bagi mereka yang membutuhkan. Melki Laka Lena, Gubernur NTT, mengatakan keluarga dari bocah SD yang bunuh diri di Ngada tidak masuk dalam keluarga yang menerima bantuan sosial dari pemerintah.
"Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang," kata Melki, mengungkapkan bahwa data penduduk korban belum terdaftar dengan benar. Dia melansir sumbernya dari Antara.
Pernyataan ini ditujukan kepada keluarga dari bocah SD yang bunuh diri karena tak mampu membeli buku dan pensil. Melki berharap pemerintah setempat segera membereskan hal tersebut, karena hal ini hanya menyangkut selembar kertas.
"Tapi sayangnya masih begitu. Segera bereskan, yang begini-begini kan seharusnya tidak terjadi," ujarnya dengan penuh kesedihan.
Melki berjanji tidak ingin menyalahkan siapa-siapa yang menjadi penyebab orang tua korban tidak menerima bantuan. Dia juga berharap kejadian serupa tidak akan terjadi lagi di kemudian hari.
Saat ini, Melki memerintahkan agar semua kepala daerah benar-benar mendata keluarga miskin yang layak menerima bantuan sosial.
Ia mengakui ada kegagalan sistem yang ada di tingkat provinsi, lalu Kabupaten Ngada hingga ke tingkat bawah. Hal ini memicu bocah kelas IV SD itu meninggal dunia dengan cara gantung diri.
"Apapun kisahnya, ini merupakan tamparan keras bagi kemanusiaan kita, tamparan keras bagi semua yang sudah kita kerjakan," tegasnya.
Pernyataan Melki mengungkapkan bahwa korban sebenarnya memiliki kesulitan dalam hidupnya. Dia sempat menulis surat untuk ibunya.