Gubernur BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Melemah Hampir Rp17.000

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebenarnya berasal dari faktor-faktor domestik maupun eksternal. Menurutnya, proses pencalonan Deputi Gubernur BI juga salah satu penyebab pelemahan rupiah.

"Faktornya bukan hanya karena kenaikan nilai dolar AS yang didorong oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat. Yang lebih penting lagi adalah aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia," kata Perry dalam konferensi pers.

Selain itu, kebutuhan valuta asing yang besar dari beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga turut memberi beban pada nilai rupiah. Menurutnya, aliran modal asing keluar sebenarnya karena ada kebutuhan valas yang besar dari korporasi seperti Pertamina, PLN, maupun Danareksa.

Namun, Perry tetap menegaskan bahwa Bank Indonesia tidak akan ragu melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Lembaga otoritas moneter itu akan menggunakan instrumen di pasar domestik maupun luar negeri untuk mencegah pelemahan nilai tukar.

"Kami tidak segan-segan kami melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik di intervensi non deliverable forward maupun di dalam negeri. Kami akan jaga stabilitas nilai tukar Rupiah," kata Perry.

Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Ini menunjukkan bahwa Bank Indonesia memiliki cadangan devisa yang cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah semakin mendekati Rp17.000 per dolar AS. Harga rupiah melemah sebesar 42,00 poin atau 0,25 persen dari level Rp16.955 pada penutupan hari sebelumnya, Senin (19/1/2026).
 
ada kebenaran di sini sih, tekanan nilai tukar rupiah terus meningkat ya... tapi gampangnya perry warjiyo nggak ingin ngatahi rakyat Indonesia nggak? dia bilang faktor domestik maupun eksternal, tapi gimana kalau kenyataannya sengaja Bank Indonesia yang membuat rupiah melemah biar bisa mengumpulkan duit dari transaksi luar negeri?

aku pikir lebih baik gini: jangan terlalu fokus pada nilai tukar rupiah, tapi fokus pada perekonomian kita sendiri. kalau kita punya infrastruktur yang bagus, industri yang berkembang, dan pendapatan yang stabil, apa yang perlu kita khawatirkan lagi?

dan gimana kalau sementara itu, Bank Indonesia masih nggak bisa menegosiasikan harga minyak yang lebih baik untuk Pertamina? kan itu juga salah satu penyebab rupiah melemah, dan gampangnya dia nggak ingin ngatahi korporasi kita?
 
aku pikir kalau nilai tukar rupiah terus mendekati Rp17.000 per dolar AS, berarti BI harus lebih serius lagi dalam mengatur cadangannya devisa. aku pikir nilai 156,5 miliar dolar AS itu masih belum cukup untuk menopang nilai rupiah. kira-kira kalau nilai tukar rupiah terus turun, maka inflasi juga akan naik, dan itu akan berdampak pada konsumen yang akan merasa kesulitan dalam membeli barang-barang sehari-hari.

aku juga curiga, apa ada alasan lain mengapa nilai tukar rupiah tidak stabil? kalau tidak ada masalah ekonomi atau kebijakan BI, maka mungkin ada hal-hal lain yang terjadi di balik layar. aku ingat dulu ada beberapa kali nilai tukar rupiah melambat, dan itu juga berdampak pada inflasi. aku rasa BI harus lebih teliti dalam menilai kondisi ekonomi dan mengambil kebijakan yang tepat untuk stabilisasi nilai rupiah.
 
Gue pikir Perry Warjiyo sih benar banget kalo katanya tekanan nilai tukar rupiah bukan hanya karena dolar AS yang naik tapi juga faktor-faktor domestik. Gue ragu-ragu kalo korporasi-korporasi BUMN itu sendiri yang banyak mengeluarkan valuta asing, kayaknya gue tahu sih apa yang diakibatkan. Nah, penting deh untuk Bank Indonesia bisa melakukan intervensi dengan bijak ya 😊. Gue harapnya bisa jaga stabilitas nilai rupiah ya! πŸ€‘
 
rupiah itu nggak tahan terus ya πŸ€‘ perlu banget cadangan devisa yang cukup seperti ini. tapi kayaknya bank indo punya strategi untuk menjaga stabilitas nilai rupiah. tapi kalau korporasi seperti pertamina dan pln terus keluar modal asing, maka rupiah itu nggak bisa stabil πŸ€”
 
Rp 17k udah mulu banget gitu πŸ€‘. Kamu pikir gini? Kalau nilai rupiah semakin mendekati Rp17.000, berarti apa keadaan lagi? Siapa yang mau menghantam rupiah ini? Belom ada yang mau masuk pasar, kini udah ada yang mau keluar πŸ€‘πŸ‘‹. Dan Perry Warjiyo juga bilang bahwa tekanan terhadap nilai tukar itu gue buatnya, tapi siapa nih yang buatnya? 😏.
 
apa sih kata Perry tuh? kalau tekanan nilai rupiah tergantung dari faktor domestik dan eksternal, itu berarti apa? siapa yang tahu pasti sih? ada yang bilang bahwa nilai rupiah lebih rendah karena kebijakan Amerika Serikat, tapi sebenarnya bagaimana caranya? dan kenapa ada banyak korporasi yang membutuhkan valuta asing banyak banget? itu bukan cuma perusahaan besar aja yang tahu, sih?
 
Ughhhhh.. Rupiah sendiri ya.. Siapa tahu mau tuker ke bagusnya aja sementara rupiah terus mengalip... Semua giliran sih, biar tidak gini kayaknya harus jadi yang terlambat lagi... Perry Warjiyo kayaknya udah sengaja mengacaukan pasar ya... Kenaikan dolar AS kalah berarti apa? Rupiah sendiri yang harus tuker.. Sama-sama aja sih, biar tidak lagi terus-menerus melemah... Cadangan devisa banyak banget jadi apa sih? Biar bisa stabilisasi nilai tukar rupiah... Sama sama ya... Yang penting adalah rupiah sendiri yang harus konsisten ya..
 
Gue penasaran kenapa BI lagi-lagi harus "jaga" nilai rupiah seperti siapa gak punya rasa ingin tahu πŸ€”. Mungkin gue salah paham, tapi gimana kalau sementara ini BI lebih fokus pada mengatur keseimbangan buang keuangan negara, biar tidak semua modal asing keluar? πŸ€‘
 
Maksudnya gue ga tahu kenapa lagi harus lemah rupiah? Kebutuhan valas yang besar dari korporasi seperti Pertamina dan PLN itu apa saja?! Gue pikir mereka harus bisa mengelola keuangan mereka sendiri, bukan bergantung pada asing. Dan cadangan devisa 156,5 miliar dolar AS itu apa saja? Nanti kalau ada krisis lagi, siapa yang bakal bayar?
 
Gue pikir Perry Warjiyo jujur deh... aliran modal asing keluar dari Indonesia memang salah satu penyebab pelemahan rupiah πŸ€”. Gue ingat kapan-kapan saja rupiah terus-menerus melemah, tapi ini kali gue tahu sebenarnya ada alasan yang kuat. Pertamina, PLN, dan Danareksa membutuhkan banyak valuta asing, jadi tentu aja nilai rupiah akan melemah πŸ“‰.

Tapi gue masih ragu-ragu, apakah Bank Indonesia sudah siap untuk melakukan intervensi yang besar? Gue ingat ada saat-saat sebelumnya, Bank Indonesia malah menurunkan suku bunga dan membuat rupiah semakin melemah lagi 😬. Jadi, gue penasaran dengan rencana mereka ini, apakah benar-benar bisa menjaga stabilitas nilai tukar? 🀞
 
Gue pikir Perry Warjiyo jujur banget, tapi juga agak ketergolongan lho. Ia bilang tekanan nilai rupiah dipengaruhi oleh faktor domestik dan eksternal, tapi gue rasakan kalau tekanan itu lebih banyak dari eksternal, kan? Politi dolar AS dan ketegangan geopolitik itu memang membuat nilai tukar rupiah turun, tapi gue pikir aliran modal asing keluar juga salah satu penyebabnya. Gue lihat di korporasi seperti PLN dan Pertamina yang butuh valuta asing banyak banget, kayaknya perlu ada solusi agar mereka tidak terlalu bergantung pada nilai dolar AS.

Gue suka dengan pendekatan Perry ini untuk melakukan intervensi dalam jumlah besar jika nilai tukar rupiah turun terlalu jauh. Namun, gue ingin tahu siapa yang akan bertanggung jawab atas intervensi itu, kan? Apakah gue harus percaya bahwa Bank Indonesia bisa mencegah pelemahan nilai tukar Rupiah dengan sendirinya?

Sekarang gue lihat cadangan devisa Indonesia sudah cukup besar, tapi gue masih ragu-ragu apakah itu sudah cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Gue harap Bank Indonesia bisa memberikan klarifikasi tentang strategi mereka dalam menjaga nilai rupiah. πŸ’ΈπŸ‘
 
Rupiah terus kenaikan sih, tapi gini aja, nilai dollar yang naik juga dipengaruhi oleh banyak faktor, kan? Belum hanya karena dolar AS ya, tetapi juga faktor-faktor lain seperti inflasi, konsumsi, dan produksi. Kalau tidak ada perubahan pada hal-hal tersebut, maka rupiah tidak akan stabil, kan? Dan yang jadi, kenaikan nilai dollar juga membuat akses ke luar negeri menjadi lebih sulit, karena biaya impor dan pembayaran utang menjadi lebih mahal. Tapi, bank Indonesia sih, selalu siap menghadapi situasi tersebut dengan melakukan intervensi yang tepat, kan? Dan sekarang mereka punya cadangan devisa yang cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar... tapi gak usah khawatir, karena masih banyak faktor lain yang mempengaruhi nilai rupiah, kan? πŸ€”πŸ’Έ
 
Gak bisa percaya apa yang terjadi dengan nilai tukar rupiah kini. Semua kata Perry Warjiyo tentang faktor-faktor domestik dan eksternal yang membuat pelemahan rupiah gak masuk akal. Yang jelas lagi, jika BUMN seperti Pertamina dan PLN butuh banyak valuta asing, itu bukan masalah kelebihan tapi kekurangan kebijakan fiskal pemerintah. Apa yang ada adalah kenaikan nilai dolar AS yang didorong oleh ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat, tapi gak ada catatan apa-apa tentang apa yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut.
 
Pernah dengar kata "tidak semua yang ada di luar bisa mengubah masalah dalam" πŸ€”. Seperti giliran nilai tukar rupiah yang dipikirkan Perry Warjiyo. Mungkin kalau kita analisis dari sisi lain, seperti bagaimana perubahan pola konsumsi masyarakat atau dampak industri pariwisata terhadap nilai tukar rupiah juga tidak bisa diabaikan. Akan tapi, apa yang jelas, tekanan dolar AS terus memanggil rupiah untuk berubah πŸ’Έ. Yang harus ditanyakan adalah bagaimana Bank Indonesia akan menghadapi situasi ini dengan strategi yang tepat πŸ€”.
 
Wow 🀯, gue pikir Perry Warjiyo udh jujur banget, tapi juga agak optimis kan? kayaknya tekanan rupiah terlalu banyak tergantung pada kebijakan Amerika Serikat aja πŸ˜…. tapi kok Perry bilang kalau ada faktor domestik juga yang bikin rupiah lemah, itu kayaknya benar banget! dan kayaknya BI udh siap untuk melakukan intervensi kalau nilai tukar terlalu jatuh, karena cadangan devisa Indonesia masih cukup besar πŸ€‘.
 
rasa gusah banget aja apa lagi nilai tukar rupiah yang terus turun. kalau tidak ada masalah, kapan kita boleh rileks? tapi jangan lupa, BI punya cadangan devisa yang cukup, makanya kayaknya tetap percaya diri. tapi aku pikir perlu diawasi aja, siapa tahu ada bocoran devisa lagi dan nilai tukar terus lemas
 
kira-kira apa yang diharapkan Perry Warjiyo sih kalau nilai rupiah itu terus jatuh? kayaknya dia bingung sih bagaimana cara mengendalinya πŸ€”. tapi aksi-aksinya sih sudah cukup, ya tahu kayaknya cadangan devisa Indonesia punya batasnya juga πŸ€‘. apalagi kalau ada kebutuhan valuta asing dari BUMN yang banyak kan seperti Pertamina dan PLN? mungkin di tahun-tahun mendatang nilai rupiah itu akan stabil lebih baik πŸ’Έ.
 
πŸ€” rupiah terus kenaikan ya, tapi siapa tau nanti turun lagi πŸ˜…. aku pikir cadangan devisa 156,5 miliar dolar AS cukup untuk stabilisasi nilai tukar πŸ€‘. tapi masih ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti inflasi dan konsumsi yang semakin tinggi πŸ”₯. sayangnya, BUMN kita masih banyak yang membutuhkan valuta asing, jadi kita harus hati-hati dalam mengelola keuangan 🀝. tapi aku rasa Perry Warjiyo sudah cukup bijak dalam mengelola Bank Indonesia, dia selalu siap melakukan intervensi jika nilai tukar kenaikan terlalu cepat 😊.
 
Rupiah kembali jadi perhatian kita, kan? πŸ€” Nah, saya pikir Perry Warjiyo benar-benar tahu apa yang terjadi dengan nilai rupiah. Tapi, siapa bilang bahwa tekanan dari dolar AS adalah satu-satunya penyebabnya? Mungkin ada lagi factor lain yang perlu kita pertimbangkan... seperti inflasi yang terus-menerus naik dan mempengaruhi kepercayaan konsumen? Atau mungkin saja kebijakan moneter yang tidak tepat? Saya rasa perlu ada debat yang lebih in-depth tentang hal ini, bukan hanya fokus pada dolar AS aja πŸ“Š
 
kembali
Top