Pasar Saham Indonesia Terancam Penurunan Status MSCI, Bank Investasi Jepang Membuat Posisi Semakin Rentan
Kondisi saham Indonesia di Wall Street semakin berat karena peringatan dari MSCI Inc. terkait potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi pasar frontier market. Goldman Sachs Group Inc. dan UBS AG menurunkan rekomendasi saham domestik menjadi underweight dan neutral, masing-masing.
Analisis Goldman Sachs mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI terkait investabilitas berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari 13 miliar dolar AS apabila pasar Indonesia benar-benar diturunkan statusnya. Selain itu, arus keluar dana tambahan sebesar 5,6 miliar dolar AS juga berpotensi terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float pasar Indonesia.
Posisi manajer investasi aktif regional di Indonesia membuat pasar semakin rentan. Potensi penurunan status, yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar serta kemungkinan berkurangnya likuiditas, dinilai dapat mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio. Kondisi ini juga berpeluang memicu arus spekulatif dari hedge fund.
Sentimen hati-hati tersebut muncul setelah MSCI menyatakan akan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks, termasuk penambahan saham, hingga regulator menindaklanjuti kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi di emiten tercatat.
Isu free float dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan di pasar Indonesia. Investor menilai sejumlah perusahaan besar memiliki likuiditas yang terbatas dan dikendalikan oleh segelintir pemegang saham. MSCI menyebut keputusannya didorong oleh masalah fundamental terkait investabilitas serta kekhawatiran investor terhadap potensi upaya terkoordinasi yang dapat mendistorsi harga saham.
Meski demikian, analis Citigroup Inc. menilai pembekuan indeks oleh MSCI ini bersifat sementara dan justru dapat menjadi peluang akumulasi pada saham-saham perbankan berkualitas, sektor telekomunikasi, serta emiten berbasis komoditas.
Tekanan sentimen tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 10 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (29/1/2025), memperpanjang koreksi yang telah berlangsung sejak sehari sebelumnya.
UBS menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan berpotensi bertahan hingga terdapat kejelasan mengenai arah kebijakan regulator dan hasil peninjauan ulang MSCI. Selain itu, UBS juga mencatat meningkatnya risiko regulasi domestik, menyusul pernyataan Menteri Sekretaris Negara yang menyebut 28 perusahaan dengan izin usaha dicabut berpotensi dikelola oleh sovereign wealth fund Danantara.
Pemerintah menyatakan akan mencabut izin sejumlah perusahaan sumber daya alam, termasuk salah satu produsen emas terbesar di Indonesia, atas dugaan pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan.
Kondisi saham Indonesia di Wall Street semakin berat karena peringatan dari MSCI Inc. terkait potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi pasar frontier market. Goldman Sachs Group Inc. dan UBS AG menurunkan rekomendasi saham domestik menjadi underweight dan neutral, masing-masing.
Analisis Goldman Sachs mengatakan bahwa kekhawatiran MSCI terkait investabilitas berpotensi memicu arus keluar dana lebih dari 13 miliar dolar AS apabila pasar Indonesia benar-benar diturunkan statusnya. Selain itu, arus keluar dana tambahan sebesar 5,6 miliar dolar AS juga berpotensi terjadi apabila FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float pasar Indonesia.
Posisi manajer investasi aktif regional di Indonesia membuat pasar semakin rentan. Potensi penurunan status, yang dikombinasikan dengan meningkatnya tekanan pasar serta kemungkinan berkurangnya likuiditas, dinilai dapat mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio. Kondisi ini juga berpeluang memicu arus spekulatif dari hedge fund.
Sentimen hati-hati tersebut muncul setelah MSCI menyatakan akan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks, termasuk penambahan saham, hingga regulator menindaklanjuti kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi di emiten tercatat.
Isu free float dalam beberapa tahun terakhir menjadi sorotan di pasar Indonesia. Investor menilai sejumlah perusahaan besar memiliki likuiditas yang terbatas dan dikendalikan oleh segelintir pemegang saham. MSCI menyebut keputusannya didorong oleh masalah fundamental terkait investabilitas serta kekhawatiran investor terhadap potensi upaya terkoordinasi yang dapat mendistorsi harga saham.
Meski demikian, analis Citigroup Inc. menilai pembekuan indeks oleh MSCI ini bersifat sementara dan justru dapat menjadi peluang akumulasi pada saham-saham perbankan berkualitas, sektor telekomunikasi, serta emiten berbasis komoditas.
Tekanan sentimen tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok hingga 10 persen pada perdagangan hari ini, Kamis (29/1/2025), memperpanjang koreksi yang telah berlangsung sejak sehari sebelumnya.
UBS menilai tekanan terhadap pasar secara keseluruhan berpotensi bertahan hingga terdapat kejelasan mengenai arah kebijakan regulator dan hasil peninjauan ulang MSCI. Selain itu, UBS juga mencatat meningkatnya risiko regulasi domestik, menyusul pernyataan Menteri Sekretaris Negara yang menyebut 28 perusahaan dengan izin usaha dicabut berpotensi dikelola oleh sovereign wealth fund Danantara.
Pemerintah menyatakan akan mencabut izin sejumlah perusahaan sumber daya alam, termasuk salah satu produsen emas terbesar di Indonesia, atas dugaan pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan.