Gerakan Indonesia Cerah (GIC) percaya bahwa Polri akan mengalami transformasi budaya yang signifikan pada tahun 2026, menurut Koordinator GIC Febry Wahyuni Sabran. Transformasi ini tidak hanya melibatkan perubahan struktural atau prosedural, tapi juga menyentuh aspek paling dalam dari sebuah institusi budaya kerja dan mentalitas anggotanya.
Febry percaya bahwa transformasi budaya Polri ini merupakan kunci untuk menghasilkan penegakan hukum yang melayani kepentingan rakyat. Ia menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme di semua lini, penguatan akuntabilitas melalui sistem pengawasan internal dan eksternal yang lebih efektif, reorientasi pelayanan publik yang menempatkan masyarakat sebagai subjek yang harus dilayani dengan sepenuh hati, dan internalisasi nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia dalam setiap aspek tugas kepolisian.
Febry juga menyampaikan dukungan institusi Polri dalam reformasi berkelanjutan sebagai lembaga yang profesional, berintegritas, dan melayani kepentingan rakyat dengan sepenuh hati. Ia percaya bahwa seluruh lapisan masyarakat Indonesia sekarang berdiri di belakang Polri dalam upaya memperkuat demokrasi hukum menjelang tahun 2026.
Menurut Febry, transformasi budaya ini didukung oleh komitmen politik yang kuat dari beberapa tokoh nasional hingga berbagai elemen masyarakat sipil. Oleh karena itu, reformasi Polri dinilai bukan hanya menjadi tanggung jawab internal institusi, melainkan juga kepentingan nasional yang harus didukung oleh seluruh komponen bangsa.
Febry percaya bahwa transformasi budaya Polri ini merupakan kunci untuk menghasilkan penegakan hukum yang melayani kepentingan rakyat. Ia menekankan pentingnya peningkatan profesionalisme di semua lini, penguatan akuntabilitas melalui sistem pengawasan internal dan eksternal yang lebih efektif, reorientasi pelayanan publik yang menempatkan masyarakat sebagai subjek yang harus dilayani dengan sepenuh hati, dan internalisasi nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia dalam setiap aspek tugas kepolisian.
Febry juga menyampaikan dukungan institusi Polri dalam reformasi berkelanjutan sebagai lembaga yang profesional, berintegritas, dan melayani kepentingan rakyat dengan sepenuh hati. Ia percaya bahwa seluruh lapisan masyarakat Indonesia sekarang berdiri di belakang Polri dalam upaya memperkuat demokrasi hukum menjelang tahun 2026.
Menurut Febry, transformasi budaya ini didukung oleh komitmen politik yang kuat dari beberapa tokoh nasional hingga berbagai elemen masyarakat sipil. Oleh karena itu, reformasi Polri dinilai bukan hanya menjadi tanggung jawab internal institusi, melainkan juga kepentingan nasional yang harus didukung oleh seluruh komponen bangsa.