Pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Maros, Sulawesi Selatan, masih belum diketahui penyebab kecelakaannya. Namun, menurut informasi yang diterima dari berbagai sumber, pesawat ini terbang pada pukul 07.00 pagi WIB sebelum jatuh ke dalam jurang kedalaman sekitar 200 meter.
Saat ini, tim SAR (SAR) darat masih bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan korban-korban yang ditemukan jatuh dari pesawat tersebut. Berdasarkan data manifest penerbangan, pesawat ATR 42-500 mengangkut 10 orang, termasuk awak pesawat.
Dalam kecelakaan ini, tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditemukan jatuh, yaitu Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Mereka masih dalam proses evakuasi.
Saat ini, operasi SAR terus berlangsung di daerah tersebut karena kondisi cuaca yang cepat berubah dan medan yang curam. Berdasarkan spesifikasi pesawat, ATR 42-500 memiliki kemampuan untuk menangani cuaca yang buruk dan dapat terbang dengan kecepatan maksimum 556 km/hr.
Sementara itu, versi produksi terkini dari pesawat ini memiliki mesin baru, baling-baling baru, kabin yang dirancang baru, dan peningkatan kapasitas bobot. Seri ATR 42-500 adalah hasil dari pengembangan yang dilakukan perusahaan pesawat Prancis, ATR, dan telah masuk dalam produksi sejak tahun 1996.
Spesifikasi pesawat ini, seperti yang disebutkan oleh laman resmi Indonesia Air, dirancang untuk memberikan penerbangan nyaman dan dapat menjadi ruang kantor dan konferensi di udara. Namun, saat ini, masih belum diketahui apakah kecelakaan ini terjadi karena kesalahan pilot atau faktor lain yang lebih kompleks.
Saat ini, tim SAR terus bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan korban-korban yang ditemukan jatuh dari pesawat tersebut.
Saat ini, tim SAR (SAR) darat masih bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan korban-korban yang ditemukan jatuh dari pesawat tersebut. Berdasarkan data manifest penerbangan, pesawat ATR 42-500 mengangkut 10 orang, termasuk awak pesawat.
Dalam kecelakaan ini, tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ditemukan jatuh, yaitu Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal. Mereka masih dalam proses evakuasi.
Saat ini, operasi SAR terus berlangsung di daerah tersebut karena kondisi cuaca yang cepat berubah dan medan yang curam. Berdasarkan spesifikasi pesawat, ATR 42-500 memiliki kemampuan untuk menangani cuaca yang buruk dan dapat terbang dengan kecepatan maksimum 556 km/hr.
Sementara itu, versi produksi terkini dari pesawat ini memiliki mesin baru, baling-baling baru, kabin yang dirancang baru, dan peningkatan kapasitas bobot. Seri ATR 42-500 adalah hasil dari pengembangan yang dilakukan perusahaan pesawat Prancis, ATR, dan telah masuk dalam produksi sejak tahun 1996.
Spesifikasi pesawat ini, seperti yang disebutkan oleh laman resmi Indonesia Air, dirancang untuk memberikan penerbangan nyaman dan dapat menjadi ruang kantor dan konferensi di udara. Namun, saat ini, masih belum diketahui apakah kecelakaan ini terjadi karena kesalahan pilot atau faktor lain yang lebih kompleks.
Saat ini, tim SAR terus bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan korban-korban yang ditemukan jatuh dari pesawat tersebut.