Fenomena longsor di desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah terus memperburuk kondisi infrastruktur dan kehidupan masyarakat. Luasan gerakan tanah yang pada 2022 sekitar 28.000 meter persegi kini berkembang menjadi 30.172 meter persegi.
Longsoran telah mencapai badan jalan utama dan bergerak ke arah utara, menyebabkan akses jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total. Pemerintah setempat harus membuka jalan elak atau pintas sebagai jalur alternatif sementara.
Menurut Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, penyebab utama longsor adalah kondisi geologi yang tidak stabil. "Kombinasi batuan vulkanik (tufa dan pasir) yang rapuh, diperparah oleh gerusan aliran air bawah tanah dan kemiringan tebing yang curam, menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng," kata Taufik.
Selain mengancam infrastruktur jalan, longsoran ini juga berdampak serius terhadap kawasan pemukiman warga di sekitarnya. Jarak longsoran tercatat hanya sekitar 450 meter dari pemukiman dan aliran sungai Kampung Segene Balik.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah mengambil langkah pengamanan, termasuk pemasangan rambu peringatan dan pembatas di sekitar lokasi longsor, serta melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat. Pihaknya juga melakukan pemantauan retakan baru, pembuatan drainase untuk mengendalikan aliran air, dan penguatan tebing dengan penanaman vegetasi penyangga.
Namun, penanganan jangka panjang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Pemkab berharap adanya intervensi berupa kajian geologi mendalam, bantuan relokasi pemukiman dan lahan warga yang terancam, serta pemindahan permanen infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan telekomunikasi.
Selain itu, pembangunan akses jalan aspal baru yang aman dan berada di luar zona rawan sinkhole juga dinilai mendesak guna menjamin keselamatan masyarakat dan kelancaran aktivitas ekonomi antarwilayah.
Longsoran telah mencapai badan jalan utama dan bergerak ke arah utara, menyebabkan akses jalan penghubung Aceh Tengah-Bener Meriah terputus total. Pemerintah setempat harus membuka jalan elak atau pintas sebagai jalur alternatif sementara.
Menurut Kepala Dinas ESDM Aceh, Taufik, penyebab utama longsor adalah kondisi geologi yang tidak stabil. "Kombinasi batuan vulkanik (tufa dan pasir) yang rapuh, diperparah oleh gerusan aliran air bawah tanah dan kemiringan tebing yang curam, menjadi pemicu utama ketidakstabilan lereng," kata Taufik.
Selain mengancam infrastruktur jalan, longsoran ini juga berdampak serius terhadap kawasan pemukiman warga di sekitarnya. Jarak longsoran tercatat hanya sekitar 450 meter dari pemukiman dan aliran sungai Kampung Segene Balik.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah telah mengambil langkah pengamanan, termasuk pemasangan rambu peringatan dan pembatas di sekitar lokasi longsor, serta melakukan sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat. Pihaknya juga melakukan pemantauan retakan baru, pembuatan drainase untuk mengendalikan aliran air, dan penguatan tebing dengan penanaman vegetasi penyangga.
Namun, penanganan jangka panjang membutuhkan dukungan pemerintah pusat. Pemkab berharap adanya intervensi berupa kajian geologi mendalam, bantuan relokasi pemukiman dan lahan warga yang terancam, serta pemindahan permanen infrastruktur vital seperti jaringan listrik dan telekomunikasi.
Selain itu, pembangunan akses jalan aspal baru yang aman dan berada di luar zona rawan sinkhole juga dinilai mendesak guna menjamin keselamatan masyarakat dan kelancaran aktivitas ekonomi antarwilayah.