Kasus Bunuh Diri Anak SD di NTT Terungkap, Motif Ekonomi dan Tekanan Sosial.
Saat ini banyak kasus yang melanda anak-anak di Indonesia untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Salah satunya kasus anak SD kelas IV berusia sekitar 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pensil dengan harga kurang dari Rp10.000.
Saat ini terungkap bahwa korban tersebut adalah seorang anak SD kelas IV berusia sekitar 10 tahun, masih anak-anak yang sangat rentan secara emosional dan psikologis. Ia tinggal bersama nenek karena tidak tinggal dengan ibunya, yaitu seorang single parent yang harus berjuang menghidupi kelima anaknya.
Hal ini menunjukkan adanya motif tekanan ekonomi keluarga yang merupakan faktor utama dalam kasus tersebut. Namun, motif ini masih belum sepenuhnya ditemukan.
Polda NTT telah mengirim tim konselor psikologi ke lokasi untuk memberikan pendampingan mental dan psikologis kepada keluarga korban agar mampu menghadapi trauma yang dialami.
Kasus ini menjadi perhatian DPR dan pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar yang menilai peristiwa ini sebagai alarm dan cambuk bagi negara dalam menjamin perlindungan anak dan hak pendidikan.
DPR juga meminta jajaran terkait untuk dapat hadir memberikan perlindungan terhadap anak-anak sehingga hal ini tidak terulang kembali.
Saat ini banyak kasus yang melanda anak-anak di Indonesia untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Salah satunya kasus anak SD kelas IV berusia sekitar 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga bunuh diri karena tidak mampu membeli buku dan pensil dengan harga kurang dari Rp10.000.
Saat ini terungkap bahwa korban tersebut adalah seorang anak SD kelas IV berusia sekitar 10 tahun, masih anak-anak yang sangat rentan secara emosional dan psikologis. Ia tinggal bersama nenek karena tidak tinggal dengan ibunya, yaitu seorang single parent yang harus berjuang menghidupi kelima anaknya.
Hal ini menunjukkan adanya motif tekanan ekonomi keluarga yang merupakan faktor utama dalam kasus tersebut. Namun, motif ini masih belum sepenuhnya ditemukan.
Polda NTT telah mengirim tim konselor psikologi ke lokasi untuk memberikan pendampingan mental dan psikologis kepada keluarga korban agar mampu menghadapi trauma yang dialami.
Kasus ini menjadi perhatian DPR dan pemerintah pusat, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar yang menilai peristiwa ini sebagai alarm dan cambuk bagi negara dalam menjamin perlindungan anak dan hak pendidikan.
DPR juga meminta jajaran terkait untuk dapat hadir memberikan perlindungan terhadap anak-anak sehingga hal ini tidak terulang kembali.