Penggunaan Ikan Buaya Ciliwung Berisiko Kesehatan
Banyak perdebatan terjadi terkait konsumsi ikan buaya yang diperkirakan memiliki kandungan protein tinggi. Menurut beberapa sumber, penggunaan ikan buaya yang berlebihan, terutama dari daerah dengan kualitas air rendah, dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan.
Penelitian di bidang ilmu teknologi pangan dari Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat di Palu, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa ikan buaya yang digiling memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada standar. Ikan buaya ini dikenal sebagai "ikan hamba" karena kemampuan mereka untuk membersihkan alga dan sampah makanan.
Meskipun demikian, ahli gizi dan teknologi pangan dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman, menekankan bahwa ikan buaya tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi, terutama dari daerah dengan kualitas air rendah. Ia menjelaskan bahwa sifat-sifat ikan buaya telah dipahami sejak lama, yaitu sebagai predator dasar yang memakan sediment dan organik di dasar sungai.
Dicky mengatakan bahwa jika ikan buaya tertangkap dalam lingkungan yang terkontaminasi, maka bahanya akan berbahaya bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar tidak mengonsumsi ikan buaya yang hidup di daerah-daerah dengan kualitas air rendah.
Sementara itu, kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Perioksidasi (BANTAN), Hasudungan A. Sidabalok, juga menekankan bahwa ikan buaya yang hidup di sungai Ciliwung tidak pantas dikonsumsi karena kandungan logam beratnya yang tinggi. Ia menyarankan agar masyarakat yang sering mengonsumsi ikan untuk menghindari mengonsumsi ikan-iakan tersebut.
Penggunaan ikan buaya dari sungai-sungai terkontaminasi seperti Sungai Ciliwung dapat membahayakan kesehatan karena kemungkinan adanya bakteri dan parasit yang menyebabkan masalah pencernaan.
Banyak perdebatan terjadi terkait konsumsi ikan buaya yang diperkirakan memiliki kandungan protein tinggi. Menurut beberapa sumber, penggunaan ikan buaya yang berlebihan, terutama dari daerah dengan kualitas air rendah, dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan.
Penelitian di bidang ilmu teknologi pangan dari Fakultas Pertanian Universitas Alkhairaat di Palu, Jawa Tengah, beberapa tahun lalu mengungkapkan bahwa ikan buaya yang digiling memiliki kandungan protein lebih tinggi daripada standar. Ikan buaya ini dikenal sebagai "ikan hamba" karena kemampuan mereka untuk membersihkan alga dan sampah makanan.
Meskipun demikian, ahli gizi dan teknologi pangan dari Griffith University di Australia, Dicky Budiman, menekankan bahwa ikan buaya tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi, terutama dari daerah dengan kualitas air rendah. Ia menjelaskan bahwa sifat-sifat ikan buaya telah dipahami sejak lama, yaitu sebagai predator dasar yang memakan sediment dan organik di dasar sungai.
Dicky mengatakan bahwa jika ikan buaya tertangkap dalam lingkungan yang terkontaminasi, maka bahanya akan berbahaya bagi tubuh manusia. Oleh karena itu, ia menyarankan agar tidak mengonsumsi ikan buaya yang hidup di daerah-daerah dengan kualitas air rendah.
Sementara itu, kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Perioksidasi (BANTAN), Hasudungan A. Sidabalok, juga menekankan bahwa ikan buaya yang hidup di sungai Ciliwung tidak pantas dikonsumsi karena kandungan logam beratnya yang tinggi. Ia menyarankan agar masyarakat yang sering mengonsumsi ikan untuk menghindari mengonsumsi ikan-iakan tersebut.
Penggunaan ikan buaya dari sungai-sungai terkontaminasi seperti Sungai Ciliwung dapat membahayakan kesehatan karena kemungkinan adanya bakteri dan parasit yang menyebabkan masalah pencernaan.