Evaluasi Nilai TKA Rendah: Perbaiki Fondasi Literasi Siswa

Capaian nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 masih mengecewakan. Nilai rata-rata Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris mencapai 55,38; 36,10; dan 24,93. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan hasil survei terdahulu, yaitu asesmen internasional Programme for International Student Assessment (PISA). Menurut Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, capaian nilai ini menunjukkan bahwa ada beberapa aspek dalam sistem pendidikan yang harus dievaluasi.

Menurut Ubaid, pemerintah tidak boleh hanya fokus pada memperbaiki nilai siswa, tapi harus memperbaiki sistem. Yang pertama adalah peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas. Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus dievaluasi dan diperbaiki. Janganlah LPTK cetak calon guru dengan mutu rendah. Jangan pula, tumpuk guru-guru terbaik di kota besar atau sekolah unggulan saja.

Yang kedua adalah fokus pada literasi dasar. Hasil TKA rendah menunjukkan siswa kesulitan memahami teks dan logika dasar. Jadi, perbaiki dulu fondasi literasi sebelum menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks.

Yang ketiga adalah kebijakan anggaran berbasis kebutuhan (asymmetric policy). Daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran dan pendampingan yang lebih besar, bukan malah "dihukum" dengan pemotongan anggaran karena dianggap tidak berprestasi.
 
ini kayaknya salah poin dari pembangunan pendidikan kita ๐Ÿค”. 55,38 aja rata-rata nilai TKA ini masih jauh dari target yang harus ditargetkan. kalau asesmen PISA juga sama-sama rendah, itu berarti ada kesalahan dalam sistem pendidikan kita sendiri. perlu diubah lagi kualitas guru dan LPTK ini, tidak boleh lagi cetak calon guru dengan mutu rendah ๐Ÿ˜’. kalau mau menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks, harus terlebih dahulu memperbaiki fondasi literasi dasar siswa. dan aku rasa pemerintah harus lebih berhati-hati dalam pengalokan anggaran pendidikan, bukan malah "dihukum" daerah-daerah dengan nilai TKA rendah ๐Ÿ˜Š.
 
Gue rasa ini bervariasi banget deh nilai TKA 2025. 55,38 nggak kecil banget, tapi juga jauh dari target yang bisa dibayangkan. Gue penasaran bagaimana proses pelatihan dan evaluasi yang ada di sekolah-sekolah ini? Apakah ada kesalahan atau keterlambatan dalam proses tersebut?

Gue pikir pemerintah harus lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan terkait pendidikan. Mereka harus melihat dari sudut pandang yang lebih luas, bukan hanya fokus pada hasil TKA saja.

Misalnya, bagaimana caranya mereka bisa memperbaiki kualitas guru dan LPTK? Apakah ada program pelatihan atau pengembangan yang sudah dimulai? Gue harap pemerintah dapat lebih transparan dalam memberikan informasi tentang upaya-upa ini.
 
Pendidikan Indonesia masih kalah sama PISA ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ. Mending banget kualitas guru dan LPTK, aja ๐Ÿ™. Jangan biar daerah rendah kaya dipotong anggaran ๐Ÿ˜•. Perlu buat fondasi literasi dasar dulu, kemudian mata pelajaran yang kompleks ๐Ÿ‘.
 
kira2 pemerintah harus mulai dari revisi sistem pendidikan kita, gak bisa sembara banget kayak ini ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ nilai TKA 2025 masih bagus gitu, tapi rata-rata bahasa indonesia, matematika, dan bahasa inggris udah rendah juga ๐Ÿค”. apa yang harus diubah adalah sistem pendidikan kita, bukan cuma memperbaiki nilai siswa saja ๐Ÿ’ก. perlu peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas, jangan biarkan lptk cetak calon guru dengan mutu rendah ๐Ÿšซ. sementara itu, literasi dasar juga harus diperbaiki terlebih dahulu sebelum menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks ๐Ÿ”“. dan apa yang tidak dimaksud dengan kebijakan anggaran berbasis kebutuhan? daerah dengan nilai TKA rendah udah perlu alokasi anggaran dan pendampingan yang lebih besar, bukan malah dipotong ๐Ÿค‘.
 
Gak bisa nyanggung lagi sih hasil TKA 2025 ini! 55,38? itu jauh dari target yang seharusnya disiapin oleh pemerintah. Saya rasa ada kesalahpahaman di kalangan pihak sekolah dan lembaga pendidikan. Mereka fokus terlalu banyak pada tes dan penilaian, bukan pada kualitas pembelajaran itu sendiri.

Guru-guru yang berkualitas harus diprioritaskan, giliran mereka! Tidak bisa cuma menekan siswa untuk cepat-cepat belajar dan tidak memahami apa-apa. Saya pikir ada kekurangan dalam sistem penilaian ini juga. Jangan boleh sekali pemerintah hanya fokus pada nilai yang tinggi, tapi giliran juga daerah-daerah yang kurang beruntung mendapatkan alokasi anggaran yang lebih banyak.

Gimana kalau kita fokus pada literasi dasar terlebih dahulu? Jadi siswa bisa memahami teks dan logika dasar, lalu penguasaan mata pelajaran yang kompleks akan semakin mudah. Kita harus berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, bukan hanya fokus pada nilai yang tinggi! ๐Ÿ˜Š๐Ÿ“š
 
Saya pikir poin penting dari hasil ini adalah kita perlu fokus pada sistem pendidikan bukan hanya siswa sendiri. Jika kita hanya memperbaiki nilai siswa saja, tapi tidak meninjau kelemahan sistem, itu seperti mencoba mengatasi gejala tanpa mengetahui penyebabnya. Kita harus meninjau kembali bagaimana kita membuat calon guru, bagaimana kita mendidik, dan bagaimana kita mengatur anggaran pendidikan. Jika kita tidak berubah, hasil seperti ini pasti akan terulang.
 
Halo temen-temen, aku rasa hasil TKA 2025 ini masih jauh dari target yang diinginkan. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris masih agak rendah, yaitu 55,38; 36,10; dan 24,93. Aku pikir ini sama seperti hasil survei PISA sebelumnya, yang menunjukkan ada beberapa aspek dalam sistem pendidikan yang harus dievaluasi.

Aku rasa pemerintah tidak boleh hanya fokus pada memperbaiki nilai siswa, tapi harus memperbaiki sistem. Yang pertama, kita perlu meningkatkan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas. LPTK harus di-evaluasi dan diperbaiki, jangan biarkan LPTK cetak calon guru dengan mutu rendah lagi! ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ

Yang kedua, kita perlu fokus pada literasi dasar. Hasil TKA rendah menunjukkan siswa kesulitan memahami teks dan logika dasar. Jadi, mari kita perbaiki fondasi literasi sebelum menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks.

Yang ketiga, aku rasa kebijakan anggaran berbasis kebutuhan (asymmetric policy) harus diperhatikan. Daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran dan pendampingan yang lebih besar, bukan malah dianggap tidak berprestasi dengan pemotongan anggaran ๐Ÿค‘
 
Makasih ya kabar TKA 2025 sih kaget banget dengan nilai rata-rata yang rendah ๐Ÿ˜ฎ. Saya pikir ini harus bikin perubahan dalam sistem pendidikan kita, tapi gampang saja pemerintah mau mengalihkan fokus ke cara memperbaiki nilai siswa aja, ya? ๐Ÿ˜’

Saya rasa apa yang dibutuhkan adalah lebih banyak upaya untuk meningkatkan kualitas guru dan distribusi guru berkualitas. LPTK harus diawasi dengan ketat agar tidak ada guru mutu rendah di cetak. Dan gampang juga pemerintah membuat tumpuk guru-guru terbaik hanya di kota besar atau sekolah unggulan, ya? ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ

Saya pikir literasi dasar harus menjadi prioritas. Siswa kesulitan memahami teks dan logika dasar, itu benar-benar masalahnya! Jadi, perbaiki dulu fondasi literasi sebelum menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks, aja. Dan tentang kebijakan anggaran berbasis kebutuhan... aku rasa ini harus diubah agar daerah dengan nilai TKA rendah mendapatkan alokasi anggaran dan pendampingan yang lebih besar, bukan dihukum dengan pemotongan anggaran, ya? ๐Ÿ“ˆ
 
Gue pikir capaian nilai TKA 2025 ini lumayan serius. Mungkin pemerintah harus fokus pada peningkatan kualitas guru, jadi kalau ada calon guru mutu rendah bisa dihilangkan aja, dan dipindahkan ke sekolah yang lebih kecil atau kurang diutamakan. Nah, kemudian biar siswa punya literasi dasar yang baik sebelum dipaksa belajar matematika atau bahasa inggris yang sulit. Dan, gue rasa pemerintah harus memberikan alokasi anggaran lebih banyak pada daerah yang nilai TKA masih rendah, bukan dihukum aja. Jadi, biar mereka bisa mendapatkan bantuan dan sumber daya yang cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikannya ๐Ÿ˜Š
 
Apa sih yang salah dengan pendidikan kita? ๐Ÿค” TKA 2025 masih rendah juga sudah tidak menjadi kejutan lagi ๐Ÿ˜’. Yang terus dipertahankan adalah sistem lemah, mulai dari guru-guru berkualitas rendah hingga fondasi literasi yang krusial. Dan bagaimana caranya kalau kita punya sistem seperti itu, diharapkan hasilnya akan baik-baik saja? ๐Ÿ™„ Kita harus mau mengakui kesalahan dan mulai perbaiki dari sumber. Tidak bisa dipungut gula dari buah yang sudah matang! ๐Ÿ‘
 
Capaian nilai TKA 2025 ini masih sangat mengecewakan bro... Rata-rata 55,38? itu seperti nggak ada yang bisa diharapkan aja... Ada banyak aspek yang harus dievaluasi dan diperbaiki, mulai dari kualitas guru, distribusi guru berkualitas, LPTK, literasi dasar, dan kebijakan anggaran. Jangan biarkan daerah-daerah yang rendah dianggap tidak berprestasi dan mendapatkan alokasi anggaran yang kurang bro... harus ada solusi untuk meningkatkan performa pendidikan ini... Tapi aja, kita hanya bisa nggak terlalu frustrasi ya...
 
Makasih, tapi paham kalau gini. Nilai TKA 2025 itu lumayan mengecewakan, kayaknya perlu disambung. Saya pikir, pemerintah harus lebih teliti dalam pemilihan guru, jangan cuma fokus pada hasilnya aja. Kalau demikian, siapa nanti yang bertanggung jawab kalau capaian nilai tidak meningkat? ๐Ÿค”

Dan, kayakanya, literasi dasar itu penting banget. Siswa harus bisa memahami teks dan logika dasar sebelum dipaksa belajar mata pelajaran yang kompleks. Itu seperti cari batu di tengah lautan, kok. ๐ŸŒŠ

Juga, anggaran berbasis kebutuhan itu harus lebih adil. Jangan biarkan daerah dengan nilai TKA rendah "dihukum" dengan pemotongan anggaran. Mungkin mereka butuh dukungan dan sumber daya yang lebih banyak untuk meningkatkan capaian nilai. ๐Ÿ“ˆ
 
Maksudnya apa sih? Nilai TKA 2025 masih rendah juga sih? Saya rasa pemerintah harus konsisten dalam implementasinya, bukan cuma ngomong saja. Kalau ingin meningkatkan nilai TKA, harus ada perubahan yang nyata, nggak cuma ngomong aja. Misalnya kalau ingin meningkatkan kualitas guru, harus ada seleksi yang ketat, nggak cuma biarkan siapa saja menjadi guru. Dan kalau di sekolah, harus ada pendidikan literasi dasar yang lebih baik juga, nggak cuma fokus pada mata pelajaran yang kompleks aja.
 
Ughhh, gak bisa nggak bingung banget dengar hasil TKA 2025 ini ๐Ÿ˜ฉ. Maksudnya nilai rata-rata Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris cuma 55,38; 36,10; dan 24,93 aja ๐Ÿคฏ. Gimana kalau kita asumsikan kita berada di sekolah yang kelas menengah? ๐Ÿ˜… Nilai itulah yang harus dipertaruhkan ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ.

Saya pikir pemerintah harus lebih serius dalam memperbaiki sistem pendidikan, bukan hanya fokus pada meningkatkan nilai siswa. Mereka harus mulai dari peningkatan kualitas guru dan redistribusi guru berkualitas. LPTK juga harus di-evaluasi dan diperbaiki agar tidak terus mencetak calon guru dengan mutu rendah ๐Ÿšซ.

Selain itu, saya rasa fokus pada literasi dasar sangat penting. Jika siswa kesulitan memahami teks dan logika dasar, bagaimana caranya mereka bisa menuntut penguasaan mata pelajaran yang kompleks? ๐Ÿค” Perlu di-evaluasi fondasi literasi sebelum menuntut penguasaan mata pelajaran yang lebih tinggi.

Dan, gak bisa tidak mengatakan hal ini ๐Ÿ˜…. Daerah dengan nilai TKA rendah harus mendapatkan alokasi anggaran dan pendampingan yang lebih besar, bukan dihukum dengan pemotongan anggaran. Itu jadi tidak adil ๐Ÿคฆโ€โ™‚๏ธ.
 
kembali
Top