"Emas, Perak, Tembaga, dan Timah Terangkat secara Bersamaan, Kekhawatiran Geopolitik sebagai Pendorong"
Harga emas, perak, tembaga, dan timah kompak terus memuncaki pada hari Rabu, mencapai level tertinggi baru dalam waktu singkat. Investasi kembali pada aset safe haven akibat kekhawatiran investor tentang intervensi militer AS di Iran dan isu independensi Federal Reserve menjadi penyebab utama kebangkitan harga logam ini.
Emas yang harganya telah berlipat ganda dalam waktu kurang dari dua tahun, naik hingga 1,1% ke level tertinggi baru US$4.641 per troy ounce. Perak juga terus memuncaki, mencapai angka US$90 untuk pertama kalinya dan melonjak hingga 6% menjadi US$92,24.
Tembaga dan timah juga mencapai level tertinggi baru masing-masing US$13.407 dan US$54.760 per ton. Kekhawatiran investor tentang meningkatnya ketegangan global dan intervensi militer AS di Iran menjadi faktor yang memicu reli kuat pada keempat logam ini.
Analisis dari Helen Amos, seorang analis di BMO, menyatakan bahwa segala sesuatunya bergerak begitu cepat, harga melampaui perkiraan semua orang. Namun, kecepatan pergerakan naik khususnya pada perak, timah, dan tembaga membuat investor institusional cukup gugup.
"Puncak simultan yang langka ini mencerminkan kekhawatiran investor tentang meningkatnya ketegangan global," kata Amos. "Tidak ada preseden yang saya ingat dalam 20 tahun terakhir untuk keempat logam tersebut mencapai puncaknya pada waktu yang bersamaan."
Protes besar-besaran di Iran dan komentar dari Presiden AS Donald Trump tentang intervensi militer AS di sana juga menjadi faktor yang memicu spekulasi tentang intervensi militer AS. Kekhawatiran investor tentang independensi Federal Reserve AS semakin meningkat setelah ketuanya Jerome "Jay" Powell buka suara bahwa jaksa AS telah meluncurkan penyelidikan kriminal terhadapnya.
Kekhawatiran ini membuat harga emas dan perak meningkat, serta menyebabkan penumpukan logam fisik yang tidak biasa di dalam negeri. Kejelasan lebih lanjut mengenai potensi tarif komoditas diharapkan dalam beberapa hari mendatang, ketika AS menerbitkan temuannya dalam Investigasi Bagian 232 terhadap mineral kritis.
Timah telah melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, karena penutupan tambang utama di Myanmar selama bertahun-tahun telah mengurangi produksi global. Platinum juga telah didukung oleh reli luas di sektor logam, mencapai rekor tertinggi baru sebesar US$2.478 per ton pada 29 Desember.
Harga emas, perak, tembaga, dan timah kompak terus memuncaki pada hari Rabu, mencapai level tertinggi baru dalam waktu singkat. Investasi kembali pada aset safe haven akibat kekhawatiran investor tentang intervensi militer AS di Iran dan isu independensi Federal Reserve menjadi penyebab utama kebangkitan harga logam ini.
Emas yang harganya telah berlipat ganda dalam waktu kurang dari dua tahun, naik hingga 1,1% ke level tertinggi baru US$4.641 per troy ounce. Perak juga terus memuncaki, mencapai angka US$90 untuk pertama kalinya dan melonjak hingga 6% menjadi US$92,24.
Tembaga dan timah juga mencapai level tertinggi baru masing-masing US$13.407 dan US$54.760 per ton. Kekhawatiran investor tentang meningkatnya ketegangan global dan intervensi militer AS di Iran menjadi faktor yang memicu reli kuat pada keempat logam ini.
Analisis dari Helen Amos, seorang analis di BMO, menyatakan bahwa segala sesuatunya bergerak begitu cepat, harga melampaui perkiraan semua orang. Namun, kecepatan pergerakan naik khususnya pada perak, timah, dan tembaga membuat investor institusional cukup gugup.
"Puncak simultan yang langka ini mencerminkan kekhawatiran investor tentang meningkatnya ketegangan global," kata Amos. "Tidak ada preseden yang saya ingat dalam 20 tahun terakhir untuk keempat logam tersebut mencapai puncaknya pada waktu yang bersamaan."
Protes besar-besaran di Iran dan komentar dari Presiden AS Donald Trump tentang intervensi militer AS di sana juga menjadi faktor yang memicu spekulasi tentang intervensi militer AS. Kekhawatiran investor tentang independensi Federal Reserve AS semakin meningkat setelah ketuanya Jerome "Jay" Powell buka suara bahwa jaksa AS telah meluncurkan penyelidikan kriminal terhadapnya.
Kekhawatiran ini membuat harga emas dan perak meningkat, serta menyebabkan penumpukan logam fisik yang tidak biasa di dalam negeri. Kejelasan lebih lanjut mengenai potensi tarif komoditas diharapkan dalam beberapa hari mendatang, ketika AS menerbitkan temuannya dalam Investigasi Bagian 232 terhadap mineral kritis.
Timah telah melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir, karena penutupan tambang utama di Myanmar selama bertahun-tahun telah mengurangi produksi global. Platinum juga telah didukung oleh reli luas di sektor logam, mencapai rekor tertinggi baru sebesar US$2.478 per ton pada 29 Desember.