Mantan Staf Khusus Mendikbudristek, Fiona Handayani, dihadirkan sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan laptop Google Chromebook untuk dua terdakwa. Proyek ini sempat menjadi perdebatan karena dirasa berbahaya dan tidak melaporkannya kepada aparat penegak hukum.
Fiona menjelaskan, dia memilih diam karena merasa ada garansi dari aparat penegak hukum sehingga legalitas pengadaannya dinilai tidak bermasalah. Dia mengatakan bahwa Chromebook masih lebih baik daripada perangkat lunak yang digunakan sebelumnya oleh lembaga pendidikan, guru, dan siswa di Indonesia.
Namun, Fiona juga menyadari bahwa Chromebook memiliki kelemahan seperti mahal, aplikasi hang, dan dapat membuka pornografi. Meski demikian, dia menjamin bahwa jika semua sudah dicek dan sesuai aturan, maka kita memilih yang terbaik untuk anak-anak Indonesia.
Hakim Sunoto memuji Fiona karena menyatakan proyek tersebut sebagai hal berbahaya, meskipun sikapnya cenderung pasif. Dia mengatakan bahwa hanya tahu hal tersebut, dan Fiona dihargai karena taat aturan norma.
Fiona menjelaskan, dia memilih diam karena merasa ada garansi dari aparat penegak hukum sehingga legalitas pengadaannya dinilai tidak bermasalah. Dia mengatakan bahwa Chromebook masih lebih baik daripada perangkat lunak yang digunakan sebelumnya oleh lembaga pendidikan, guru, dan siswa di Indonesia.
Namun, Fiona juga menyadari bahwa Chromebook memiliki kelemahan seperti mahal, aplikasi hang, dan dapat membuka pornografi. Meski demikian, dia menjamin bahwa jika semua sudah dicek dan sesuai aturan, maka kita memilih yang terbaik untuk anak-anak Indonesia.
Hakim Sunoto memuji Fiona karena menyatakan proyek tersebut sebagai hal berbahaya, meskipun sikapnya cenderung pasif. Dia mengatakan bahwa hanya tahu hal tersebut, dan Fiona dihargai karena taat aturan norma.