Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi digital Indonesia akan tumbuh pesat pada 2030, mencapai Rp147,3 triliun. Hal ini diawali dari data pertumbuhan digital dalam lima tahun terakhir yang telah mencapai Rp37 triliun. Proyeksi positif ini didukung oleh fondasi pertumbuhan yang telah dibangun kuat dalam sembilan tahun terakhir.
Saat ini, sistem pembayaran nasional (BIFAS) dan standar open API telah memfasilitasi transaksi ekonomi digital hingga mencapai Rp1,6 triliun. Bahkan, ketikaKRIS diluncurkan 2019, transaksi digital tumbuh dengan eksponensial.
Tiga faktor kunci yang akan mendorong realisasi proyeksi tersebut adalah demografi, penetrasi internet, dan kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri. Bonus demografi dari Generasi Z dan Alpha yang telah melek digital juga menjadi penentu.
Untuk mengakselerasi capaian tersebut, Bank Indonesia berkomitmen memperkuat tiga pilar. Pertama, infrastruktur sistem pembayaran yang tangguh; kedua, ekosistem ekonomi digital yang terpercaya dan inovatif; ketiga, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaulat melalui digitalisasi.
Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran dan Asisten Gubernur Bank Indonesia, mengatakan bahwa proyeksi positif ini menunjukkan potensi besar dalam kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri.
Saat ini, sistem pembayaran nasional (BIFAS) dan standar open API telah memfasilitasi transaksi ekonomi digital hingga mencapai Rp1,6 triliun. Bahkan, ketikaKRIS diluncurkan 2019, transaksi digital tumbuh dengan eksponensial.
Tiga faktor kunci yang akan mendorong realisasi proyeksi tersebut adalah demografi, penetrasi internet, dan kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri. Bonus demografi dari Generasi Z dan Alpha yang telah melek digital juga menjadi penentu.
Untuk mengakselerasi capaian tersebut, Bank Indonesia berkomitmen memperkuat tiga pilar. Pertama, infrastruktur sistem pembayaran yang tangguh; kedua, ekosistem ekonomi digital yang terpercaya dan inovatif; ketiga, pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaulat melalui digitalisasi.
Dicky Kartikoyono, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran dan Asisten Gubernur Bank Indonesia, mengatakan bahwa proyeksi positif ini menunjukkan potensi besar dalam kemampuan inovasi dan teknologi dalam negeri.