Ekonom Soroti Rencana Pemerintah Terbitkan Surat Utang Dolar

Pemerintah terus mengekspresikan rencananya untuk menerbitkan obligasi berdenominasi dolar AS senilai 2,7 miliar dolar AS di tahun ini. Tidak hanya itu, pihak eksekutif juga mengumumkan bahwa ini akan menjadi penerbitan surat utang dolar pertama di Asia pada tahun ini dan akan mengikuti gelombang negara-negara pasar berkembang lainnya seiring awal 2026 mencatat rekor penerbitan utang global.

Menurut informasi dari seorang narasumber yang mengetahui rencana tersebut, obligasi ini akan dirilis dalam tiga seri dengan jatuh tempo lima hingga 30 tahun. Bagian terpanjang dari transaksi itu—obligasi senilai 500 juta dolar AS yang jatuh tempo pada 2056—akan memberikan imbal hasil 5,5 persen setelah indikasi harga awal berada di kisaran 5,8 persen.

Namun, langkah tersebut menuai pro sekaligus kontra dari kaca mata para ekonom. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Instute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyatakan penerbitan obligasi dolar AS tidak menjadi solusi atas melemahnya nilai rupiah.

"Karena langkah tersebut hanya menambah pasokan devisa sesaat, sekaligus menciptakan kewajiban valas di masa depan, sehingga tidak menyentuh akar persoalan nilai tukar," tutur Rizal melalui pesan singkat, Rabu (21/1/2026).

Rizal menilai langkah tersebut memiliki risiko besar, terutama di tengah kondisi dolar AS yang menguat dan suku bunga dunia tinggi. Penerbitan utang dolar dinilai dapat menambah cadangan devisa secara instan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kondisi salah hitung atau currency mismatch.

"Jika dilakukan agresif saat dolar global kuat dan suku bunga tinggi, strategi ini justru meningkatkan risiko fiskal dan currency mismatch, serta berpotensi dibaca pasar sebagai sinyal tekanan pembiayaan," ujar dia.

Sementara itu, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyarankan pemerintah agar menerbitkan obligasi dolar AS yang lebih banyak lagi. Ia menilai permintaan terhadap obligasi dolar AS masih tinggi dan saat nilai rupiah masih Rp10 ribu-Rp11 ribu per dolar AS, nilai rupiah disebut masih kuat.

"Yang kita kehilangan saat ini itu orang punya dolar, tapi enggak ada tempat aset untuk menyimpan dolarnya di dalam negeri. Makin enggak ada perusahaan yang mengeluarkan obligasi dolar," urainya.
 
Wow 🤯, kalau pemerintah mau bikin obligasi dolar AS senilai 2,7 miliar dolar AS? itu ngga kecil banget ya! interesting 💸, tapi apakah benar-benar bagus buat nilai rupiah? menurut Rizal, tidak, karena hanya menambah pasokan devisa sesaat dan menciptakan kewajiban valas di masa depan. Hmm 🤔, saya pikir perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebelum pemerintah mengambil keputusan seperti itu!
 
Kalau gini pemerintah mau menerbitkan obligasi dolar AS berdenominasi 2,7 miliar dolar senilai dengan imbal hasil 5,5 persen kayak gimana?

Saya pikir ini salah strategi, karena nilai rupiah sudah stabil dan kuat sekarang. Tapi apa yang dia ketahui itu, kalau gini penerbitan obligasi dolar AS hanya menambah pasokan devisa sesaat aja, dan bukan menyelesaikan masalah nilai tukar yang serius.

Saya lebih yakin jika pemerintah mau menerbitkan obligasi dolar AS, maka harus ada prioritas untuk memprioritaskan strategi yang akan diambil, seperti meningkatkan pengelolaan devisa dan mengoptimalkan kebijakan fiskal.
 
Kurang baik nih kalau gini terus-serusnya cari uang... 2,7 miliar dolar AS itu berapa kaya? 🤑 Pemerintah hanya cari jalan keluar dari masalah devisa, tapi mereka tidak lihat solusi akhirnya itu bagaimana. Kita harus waspada terhadap langkah ini, karena kalau tidak tepat, kita akan kehilangan banyak uang...
 
Kira-kira nanti kok jadi begitu mahal banget nih jual obligasi dolar AS. Saya pikir lebih baik banget jadi investasi di Indonesia aja, misalnya SAAT atau SMGR. Yang penting deh kita punya uang untuk kampus ya 🤓📚
 
Gue pikir banget sih, pemerintah Indonesia nanti lagi terjebak dengan utang dollar 😬. Bisa dibilang, mereka lagi "mencari koin" di pasar global 🌎. Tapi, apa artinya? Mereka lagi melewatkan kesempatan untuk meningkatkan produksi dan pertumbuhan ekonomi kita sendiri 📈.

Dan ini gue juga tidak setuju dengan Rizal Taufikurahman sih 🙅‍♂️. Jika pemerintah Indonesia ingin meningkatkan nilai rupiah, maka harus ada langkah yang lebih realistis dan efektif daripada sekadar menerbitkan obligasi dollar AS 🤑.

Dan, Fakhrul Fulvian nanti lagi bilang apa? 😂 Sepertinya, hanya ada satu konsensus di sini: pemerintah Indonesia perlu meningkatkan produksi dan pertumbuhan ekonomi kita sendiri, bukan terus-terang menumpuk utang dollar AS 🌟.
 
Aku pikir kalau gini cara pemerintah cari solusi devisa, kayaknya kurang efektif aja. Karena apa aku bilang demikian? Kalau aku memanggil orang lain untuk dibawa ke bank, aku akan membawa uang tunai aja, kan?

Tapi, aku pikir kalau pemerintah menerbitkan obligasi dolar AS itu, kayaknya mereka harus lebih berhati-hati dulu. Karena jika suku bunga di pasar dunia mulai menurun, aku khawatir obligasi tersebut akan sulit dibayar kembali.

Aku juga pikir, kalau pemerintah ingin meningkatkan nilai rupiah, mereka harus lebih fokus pada itu dulu. Mungkin saja dengan menerbitkan obligasi dolar AS, mereka hanya membuat rasa nyaman para investor yang sudah ada, tapi tidak berarti mereka benar-benar meningkatkan nilai rupiah.

Aku punya ide sendiri untuk meningkatkan nilai rupiah. Aku pikir kalau pemerintah harus lebih fokus pada meningkatkan infrastruktur dan investasi di dalam negeri. Jika kita memiliki banyak proyek yang baik, maka orang asing akan lebih tertarik untuk berinvestasi di Indonesia, dan itu akan membuat nilai rupiah naik.
 
ini gak masuk akal sih pemerintah lagi menerbitkan obligasi dolar AS, kalau mau jadi tidak perlu lagi mencari devisa, kan? tapi aku rasa ini pilihan yang salah karena nilai rupiah sudah Rp10 ribu-Rp11 ribu per dolar AS, apakah itu sudah kuat?
 
Miriin, penerbitan obligasi dolar AS senilai 2,7 miliar dolar AS itu kayak gini? Pemerintah mau jadi apa sih? Menambah pasokan devisa saja, tapi juga bikin kewajiban valas di masa depan. Makanya Rizal Taufikurahman justru khawatir risiko besar, lho! 🤔

Sementara itu, Fakhrul Fulvian kayak aja, pemerintah harus menerbitkan lebih banyak lagi obligasi dolar AS. Beliau bilang permintaan terhadap obligasi dolar AS masih tinggi, dan saat nilai rupiah masih Rp10 ribu-Rp11 ribu per dolar AS, maka nilai rupiah sudah kuat! 😎

Aku pikir keduanya benar-benar luar biasa. Pemerintah harus lebih bijak lagi, karena pihak investor akan langsung menyadarinya. Jangan sampai penerbitan obligasi dolar AS ini jadi contoh kesalahan fiskal! 🚨
 
Gak bisa dipungut nafku sih obligasi dolar AS apa aja tujuannya, gini juga ada pakai 500 juta dolar AS? Siapa tahu kalau kena bawa inflasi, apakah masih ada orang yang mau punya dollar? Tapi toh perlu sih, karena nilai rupiah terus turun aja... Mungkin aku salah, tapi aku pikir pemerintah harus cari cara lain buat mendapatkan devisa, gak perlu lagi penerbitan obligasi dolar AS. Aku juga tahu kalau suku bunga dunia tinggi, itu apa sih maksudnya?
 
kembali
Top