Tiga Korban Terakhir Pesawat ATR 42-500 PK THT Diketahui Teridentifikasi
Polda Sulsel mengumumkan hasil identifikasi tiga korban yang ditemukan dalam pesawat ATR 42-500 PK THT, yaitu Esther Aprilita (26). Jenazah tersebut ditemukan di kantong jenazah PM 62b.04 dan cocok dengan data ante mortem korban.
Jenazah tersebut dikonfirmasi oleh Kombes Muhammad Haris, Kabid Dokkes Polda Sulsel. Ia menyebutkan hasil pemeriksaan sidik jari, geligi, properti, dan ciri-ciri fisik yang cocok dengan data ante mortem korban atas nama Esther Aprilita.
Pemeriksaan jasad korban melibatkan tim DVI gabungan dari Polda Sulsel, Puslabfor Polri, Pusdokkes Polri, Pusident Bareskrim Polri, dan Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Kepala Pusident Bareskrim Polri, Brigjen Mashudi, berhasil mencocokkan jempol kanan korban dengan data sidik jari sehingga identitas korban dapat teridentifikasi. Masih tersisa tujuh jenazah dan satu bagian tubuh yang masih dalam proses identifikasi.
Masa pemeriksaan DNA diperkirakan akan tuntas dalam sepekan karena petugas harus melakukan pemeriksaan data primer dan sekunder. "Kita butuh waktu seminggu untuk pemeriksaan DNA, tapi kita sudah punya hasil pemeriksaan ante mortem, diharapkan bisa lebih cepat diketahui," kata Brigjen Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti, Kepala Biro Laboratorium Pusdokkes Polri.
Polda Sulsel mengumumkan hasil identifikasi tiga korban yang ditemukan dalam pesawat ATR 42-500 PK THT, yaitu Esther Aprilita (26). Jenazah tersebut ditemukan di kantong jenazah PM 62b.04 dan cocok dengan data ante mortem korban.
Jenazah tersebut dikonfirmasi oleh Kombes Muhammad Haris, Kabid Dokkes Polda Sulsel. Ia menyebutkan hasil pemeriksaan sidik jari, geligi, properti, dan ciri-ciri fisik yang cocok dengan data ante mortem korban atas nama Esther Aprilita.
Pemeriksaan jasad korban melibatkan tim DVI gabungan dari Polda Sulsel, Puslabfor Polri, Pusdokkes Polri, Pusident Bareskrim Polri, dan Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Kepala Pusident Bareskrim Polri, Brigjen Mashudi, berhasil mencocokkan jempol kanan korban dengan data sidik jari sehingga identitas korban dapat teridentifikasi. Masih tersisa tujuh jenazah dan satu bagian tubuh yang masih dalam proses identifikasi.
Masa pemeriksaan DNA diperkirakan akan tuntas dalam sepekan karena petugas harus melakukan pemeriksaan data primer dan sekunder. "Kita butuh waktu seminggu untuk pemeriksaan DNA, tapi kita sudah punya hasil pemeriksaan ante mortem, diharapkan bisa lebih cepat diketahui," kata Brigjen Pol Dr dr Sumy Hastry Purwanti, Kepala Biro Laboratorium Pusdokkes Polri.