Dugaan bullying dan pelecehan seksual menimpa seorang remaja putri di sebuah SMP di Jakarta Timur. Korban berinisial C adalah anak dari seorang influencer bernama H. Dugaan ini terungkap setelah teman satu sekolah C, bernama R, membahas hal yang tidak pantas tentang kakak C di sebuah grup percakapan.
Menurut H, C mengalami trauma setelah dengar kabar bahwa R merencanakan untuk membiusnya pada tahun baru. Meskipun R saat itu membicarakan bahwa dia hanya bercanda, namun C tetap menanyakan dan mendapat jawaban yang tidak jelas.
Selain dugaan pelecehan seksual, H juga mengungkapkan bahwa C mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025. Pihak sekolah dianggap ringan dalam memberikan sanksi kepada terduga pelaku diskorsing, yaitu skor selama dua hari.
H menyebutkan bahwa tidak sedikit korban pelecehan yang akhirnya mengakhiri hidup karena tidak sanggup menanggung tekanan psikologis. Dia juga menyatakan bahwa anaknya kuat dan menceritakan pengalaman tersebut, namun dia tidak yakin apakah itu akan memadai untuk mengatasi trauma yang dialami C.
H menetapkan untuk melapor ke polisi dalam hal ini dan berharap bisa meminta keterlibatan dari pihak sekolah.
Menurut H, C mengalami trauma setelah dengar kabar bahwa R merencanakan untuk membiusnya pada tahun baru. Meskipun R saat itu membicarakan bahwa dia hanya bercanda, namun C tetap menanyakan dan mendapat jawaban yang tidak jelas.
Selain dugaan pelecehan seksual, H juga mengungkapkan bahwa C mengalami perundungan verbal sejak Februari 2025. Pihak sekolah dianggap ringan dalam memberikan sanksi kepada terduga pelaku diskorsing, yaitu skor selama dua hari.
H menyebutkan bahwa tidak sedikit korban pelecehan yang akhirnya mengakhiri hidup karena tidak sanggup menanggung tekanan psikologis. Dia juga menyatakan bahwa anaknya kuat dan menceritakan pengalaman tersebut, namun dia tidak yakin apakah itu akan memadai untuk mengatasi trauma yang dialami C.
H menetapkan untuk melapor ke polisi dalam hal ini dan berharap bisa meminta keterlibatan dari pihak sekolah.