DPR Ungkap Co-firing Biomassa Bisa Pangkas 10 Juta Ton Batu Bara

DPR mengungkapkan bahwa co-firing biomassa bisa menghemat konsumsi batu bara hingga 10 juta ton per tahun. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto menyatakan bahwa target implementasi co-firing sebesar 5% dapat memangkas penggunaan batu bara dalam negeri.

Menurutnya, jika konsumsi kurang lebih 200 juta ton per tahun, maka target co-firing adalah 5%, yang berarti akan mengurangi konsumsi batu bara sekitar 10 juta ton. Ini merupakan upaya untuk mengurangi emisi karbon dan memenuhi komitmen Paris Agreement.

Namun, masih ada beberapa persoalan yang perlu diatasi, seperti ketersediaan dan kontinuitas biomassa yang belum terjamin, kualitas biomassa yang belum seragam, dan keterbatasan teknologi serta tingginya biaya retrofit. Ketua Ombudsman Mokhammad Najih menilai bahwa implementasi program co-firing di lapangan belum berjalan optimal dan merata.

Dia juga mengingatkan bahwa jika tidak dikelola dan diawasi secara ketat, program pencampuran biomassa tersebut berisiko menimbulkan masalah administrasi di kemudian hari. Oleh karena itu, sangat penting untuk menekan emisi serta mengurangi konsumsi batu bara yang melimpah dengan memperkenalkan teknologi yang lebih baik dan efisien.

Dengan demikian, co-firing biomassa dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan efektif dalam mengurangi penggunaan batu bara.
 
Gue pikir kalau biar kita bisa menyelesaikan masalah lingkungan, kita harus makin serius dan kooperatif dengan teknologi baru seperti co-firing biomassa. Tapi, tapi, kita harus jaga agar tidak ada kesalahan yang nanti akan berdampak besar. Karena gue melihat beberapa hal yang masih harus diatasi, seperti ketersediaan biomassa yang belum tentu terjamin dan kualitasnya juga belum seragam... Maksudnya, kita harus lebih teliti dalam menerima teknologi baru ini.
 
Gue pikir program ini nggak bakal berjalan sesuai aja, biar gampang aja kita coba 1% saja, tapi nanti apa aja kalau teknologi belum siap? Dan sih, biaya retrofit itu kayaknya terlalu mahal, makanya kalau kita mau mulai, harus dulu ada perencanaan yang matang. Dan sih, ketersediaan biomassa punya masalah, gue yakin nanti di tahun depan aja kekurangan biomassa punya bahan bakar utama kami. Dan, sih, gue ragu kalau ini program ini nggak hanya berlaku untuk negara kita saja, tapi juga ada yang lain di luar negeri kayaknya... ๐Ÿ˜’
 
"Kita harus menjadi penjahat kita sendiri untuk membalas dendam atas segala kejahatan yang telah kita lakukan pada alam." ๐ŸŒฟ๐Ÿ’š
Aku rasa itu penting banget nih, kalau kita tidak berubah dan jadi lebih ramah lingkungan, nanti akhirnya kita akan menghadapi masalah besar di masa depan. Kita harus mulai sekarang untuk mengurangi penggunaan batu bara dan mencari alternatif yang lebih baik seperti co-firing biomassa ๐Ÿ’ก
 
Co-firing biomassa seringkali ngeluarin biaya bnyak untuk ngebutuhkan teknologi retrofit. Maksudnya siapa yang mau niat ngganti dari batu bara? ๐Ÿค”๐Ÿ’ธ
 
Gampang aja banget sih kalau pemerintah mau mulai berinvestasi di teknologi energi terbaru seperti co-firing biomassa. Sebenarnya dari data lama juga sudah ada yang bisa dijadikan contoh, gini contohnya: di Jawa Tengah ada beberapa perusahaan yang sudah menggunakan metode ini dan berhasil menghemat banyak bahan bakar kayu. Jadi kalau pemerintah mulai berinvestasi dan memberikan insentif yang tepat, tentu bisa mengurangi emisi karbon dan memenuhi komitmen Paris Agreement. Yang perlu dipecahkan lagi adalah biaya retrofit yang terlalu mahal.
 
wahhh, ini gampang banget ya! co-firing biomassa bisa menghemat konsumsi batu bara hingga 10 juta ton per tahun. aku pikir itu sangat keren, karena bisa mengurangi emisi karbon dan memenuhi komitmen Paris Agreement. tapi, aku juga sedih karena masih ada beberapa persoalan yang harus diatasi, seperti ketersediaan dan kontinuitas biomassa yang belum terjamin. tapi, aku percaya bahwa dengan adanya teknologi yang lebih baik dan efisien, kita bisa menekan emisi dan mengurangi konsumsi batu bara yang melimpah. ini sangat penting, karena aku suka bermain game online menggunakan GPU yang kuat tanpa khawatir menghemat energi ๐Ÿ˜„
 
๐ŸŒฑ๐Ÿ”ฅ aku pikir proyek co-firing biomassa ini sebenarnya lumayan bakar (maaf, gak bisa tidak bilangnya ๐Ÿ˜‚). tapi jadi, kalau kita fokus pada teknologi yang lebih baik dan efisien, maka itu jadi alternatif yang lebih ramah lingkungan. tapi, aku masih ragu-ragu nih dengan ketersediaan dan kontinuitas biomassa. seperti apa sih caranya agar semua ada dalam satu kesatuan ๐Ÿค”? tapi secara umum, aku pikir co-firing biomassa ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi penggunaan batu bara dan menyerap emisi karbon. ๐Ÿ˜Š
 
heya bro, aku rasa co-firing biomassa itu jelas salah satu solusi bagus untuk menghemat konsumsi batu bara ya, tapi gampang banget aja kalo kita nggak siap dengan teknologi yang tepat dan biaya retrofit yang terjangkau. apa kira-kira cara kerjanya sih bro? bagaimana bisa biomassa bisa menghemat konsumsi batu bara sebesar 10 juta ton per tahun ๐Ÿค”๐ŸŒฟ
 
Saya rasa ini kalau kita fokus pada teknologi yang mau diimplementasikan maka itu bisa jadi solusi yang baik ๐Ÿค”. Tapi, masalahnya ada juga dengan logistik dan infrastruktur yang belum terjamin. Jika kita ingin co-firing biomassa sebesar 5% maka harus ada sistem yang lebih baik untuk mengumpulkan dan menyimpan biomassa di seluruh negeri. Dan biaya retrofit ini juga bikin keseimbangan harga dan biaya konsumsi batu bara menjadi tidak terjamin. Saya rasa kita butuh analisis lebih lanjut sebelum berinvestasi dalam teknologi ini ๐Ÿคฏ.
 
Gak nyaman banget sama konsep ini, kalau kalian harus 'ekspres' untuk menangkap target 5% itu, gimana jika di lapangan masih banyak yang belum fokus? Aku pikir lebih baik banget kalau ada prioritas yang jelas dan tidak terburu-buru, nanti aja bisa mengoptimalkan halnya. Dan teknologi yang digunakan juga harus lebih baik lagi biar nggak tambah mahal. Saya rasa yang perlu diatasi adalah konflik antara pertanian dengan industri pembangkit listrik.
 
Pernah sih nggak ngobrol sama temen di Jakarta tentang konsep ini? Co-firing biomassa memang bisa jadi solusi utama banget buat mengurangi konsumsi batu bara, tapi masalahnya, akrabnya, masih banyak hal yang perlu diresolvo. Ketersediaan dan kontinuitas biomassa, kualitas biomassa, teknologi, biaya retrofit... semua ini harus diatasi dulu sebelum bisa banget berkesinambungan. Tapi jadi aja, aku rasa konsep ini sangat penting buat Indonesia, karena kita harus mengurangi emisi karbon dan memenuhi komitmen Paris Agreement. Kalau gak banget beresolusi masalahnya, co-firing biomassa hanya jadi teori, tapi tidak terlaksana di lapangan.
 
Maksudnya apa sih kalau kita nambah aksi co-firing biomassa? Kita butuh biaya apalagi nih, aku rasa masing-masing pabrik atau perusahaan harus bereaksi sendiri terlebih dahulu, tidak bisa dipaksa semua berubah sama-sama. Dan ketersediaan apa sih itu biomassa? Kita nggak tahu kayak gini kalau ada sumber dari mana biomassa itu berasal... ๐Ÿค”
 
Gue pikir keren banget kalau Indonesia bisa menghemat konsumsi batu bara hingga 10 juta ton per tahun. Tapi, gue masih khawatir dengan teknologi yang digunakan dan biaya retrofit. Kalau tidak dikelola dengan baik, program co-firing biomassa pasti akan masalah di kemudian hari. Gue harap pemerintah bisa menekan emisi dan mengurangi konsumsi batu bara dengan memperkenalkan teknologi yang lebih baik ๐ŸŒฑ๐Ÿ’š
 
ini buleh sih, ko-firing biomassa itu bisa jadi solusi yang bagus banget untuk mengurangi konsumsi batu bara! tapi kita harus berhati-hati, biar gak ada masalah administrasi di kemudian hari ya... mungkin perlu bikin regulasi yang lebih ketat biar semua pihak bisa ikut serta dalam program ini...
 
Aku pikir itu ide bagus, tapi kalau aku pikir, aku malah pikir biaya retrofit itu bikin pengeconomian kebanyakan ๐Ÿ˜’. Kita harus lebih teliti, aku rasa kita harus lebih fokus pada teknologi yang sudah ada, bukan membuat kelas baru yang bikin penasaran, pihak nirkap tidak mau diprioritaskan. Tapi, aku juga pikir penting banget untuk menekan emisi karbon, dan jika co-firing bisa membantu itu, aku juga setuju ๐Ÿค. Aku masih ragu-ragu tapi aku rasa ada keuntungan di sini yang aku tidak ketahui ๐Ÿ˜.
 
gak percaya sih kalau bisa menghemat 10 juta ton batu bara per tahun dari co-firing biomassa... tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan juga, seperti teknologi yang belum lengkap dan biaya retrofit yang tinggi... tapi secara umum aku pikir ini adalah langkah yang tepat untuk mengurangi emisi karbon dan memenuhi komitmen Paris Agreement ๐Ÿ˜Š.
 
Wah, makanya kalau kita mau ngurangi konsumsi batu bara hingga 10 juta ton per tahun kayak aja! Sama-sama ya, kita harus terus berinovasi dan mencari solusi baru untuk menghemat energi dan lingkungan. Biar kota Jakarta jadi lebih hijau lagi nih ๐ŸŒฑ๐Ÿ’š
 
kembali
Top