Dosen UGM Kembangkan Teknologi Nanosilika dari Pemasakan Bumi untuk Meningkatkan Pertumbuhan Tanaman. Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Himawan Tri Bayu Murti Petrus berhasil mengembangkan inovasi nanosilika dari panas bumi sebagai penyubur dan penguat tanaman. Teknologi ini dirancang untuk membuka peluang menuju hilirisasi dan penerapan industri di masa mendatang.
Menurut Himawan, proses pembuatan nanosilika memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan. Teknologi ini juga dapat berperan dalam mengurangi kebutuhan bahan kimia sintetik dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Dalam penelitian ini, Himawan berhasil mengubah silika geothermal menjadi nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, dan konsisten. Nanosilika ini dapat berperan dalam memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan tanaman, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi.
Dengan menggunakan nanosilika, pertanian dapat menjadi lebih efisien dan adaptif. Kandungan nanosilika ini memiliki keunggulan dalam ketersediaan hidranya yang tinggi, sehingga mudah diserap oleh tanaman. Penggunaannya juga sangat efisien, yaitu sekitar 1-2 kilogram per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK.
Pemanfaatan teknologi nanosilika ini dapat membantu Indonesia mencapai potensi kekayaan panas bumi yang besar. Pada saat ini, Indonesia memiliki potensi kekayaan panas bumi mencapai 40 persen dari potensi dunia, yaitu 23.965,5 Megawatt (MW).
Menurut Himawan, proses pembuatan nanosilika memiliki potensi replikasi dan peningkatan skala, sehingga membuka peluang menuju tahap hilirisasi dan penerapan industri di masa depan. Teknologi ini juga dapat berperan dalam mengurangi kebutuhan bahan kimia sintetik dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Dalam penelitian ini, Himawan berhasil mengubah silika geothermal menjadi nanosilika dengan karakteristik unggul, stabil, dan konsisten. Nanosilika ini dapat berperan dalam memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan tanaman, serta memperbaiki efisiensi transportasi nutrisi.
Dengan menggunakan nanosilika, pertanian dapat menjadi lebih efisien dan adaptif. Kandungan nanosilika ini memiliki keunggulan dalam ketersediaan hidranya yang tinggi, sehingga mudah diserap oleh tanaman. Penggunaannya juga sangat efisien, yaitu sekitar 1-2 kilogram per hektare, jauh lebih rendah dibandingkan pupuk makro seperti NPK.
Pemanfaatan teknologi nanosilika ini dapat membantu Indonesia mencapai potensi kekayaan panas bumi yang besar. Pada saat ini, Indonesia memiliki potensi kekayaan panas bumi mencapai 40 persen dari potensi dunia, yaitu 23.965,5 Megawatt (MW).