Ternyata, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengaku sebagai menteri anti-impor. Apakah itu benar atau hanya kata-katanya yang dipenuhi dengan rasa politik?
Pertanyaan-pertanyaannya adalah: Bagaimana asal usul kebijakan tersebut? Maksudnya, "By Design" apakah kata Bahlil, bukan hanya bantahan dan keinginannya untuk tidak tergantung pada impor. Kalau benar-benar ingin menjadi menteri anti-impor, bagaimana dia bisa mengatakan hal ini tanpa tulus?
Pernyataan itu juga diiringi dengan data yang menunjukkan ketimpangan besar antara konsumsi dan produksi domestik. Misalnya untuk solar, kebutuhan nasional mencapai 38 juta kiloliter per tahun, tetapi produksi hanya berkisar 14-16 juta kiloliter. Kesenjangan ini selama ini ditutupi dengan program campuran bahan bakar nabati B40.
Tapi apa yang menurut Bahlil bisa dilakukan? Maka dia membuat mandatori etanol, yaitu efisiensi impor sebesar 3,9 juta kiloliter. Itu juga menunjukkan dia ingin mengatur kebijakan untuk mengurangi impor bensin.
Pertanyaan-pertanyaannya adalah: Bagaimana asal usul kebijakan tersebut? Maksudnya, "By Design" apakah kata Bahlil, bukan hanya bantahan dan keinginannya untuk tidak tergantung pada impor. Kalau benar-benar ingin menjadi menteri anti-impor, bagaimana dia bisa mengatakan hal ini tanpa tulus?
Pernyataan itu juga diiringi dengan data yang menunjukkan ketimpangan besar antara konsumsi dan produksi domestik. Misalnya untuk solar, kebutuhan nasional mencapai 38 juta kiloliter per tahun, tetapi produksi hanya berkisar 14-16 juta kiloliter. Kesenjangan ini selama ini ditutupi dengan program campuran bahan bakar nabati B40.
Tapi apa yang menurut Bahlil bisa dilakukan? Maka dia membuat mandatori etanol, yaitu efisiensi impor sebesar 3,9 juta kiloliter. Itu juga menunjukkan dia ingin mengatur kebijakan untuk mengurangi impor bensin.