Puncak Flu Musiman di Jakarta, Wasiat Masyarakat untuk Siap-siap Februari!
Warga DKI Jakarta, perlu berwas-was untuk mengantisipasi puncak flu musiman yang umum terjadi pada Februari-Maret dan Oktober-November tahun ini. Dikatakan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, pola ini relatif konsisten dan menjadi dasar penguatan upaya pencegahan pada periode tersebut.
Musim hujan maupun masa pancaroba merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya kasus flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi udara yang lebih lembap membuat droplet (percikan liur dari mulut atau hidung saat batuk, bersin, atau berbicara) bertahan lebih lama sementara aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas dapat meningkatkan risiko penularan.
Selain itu, perubahan suhu yang cukup drastis juga dapat membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, memastikan ventilasi rumah yang baik, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kasus influenza A di Jakarta, data Sistem All Record Kemenkes menunjukkan sepanjang bulan Januari tahun 2026 terdapat satu kasus positif Influenza A subtipe H1 dan 2 kasus positif Influenza A subtipe H3 dari 43 sampel yang diperiksa. Sebagai perbandingan, pada dua minggu pertama Januari tahun 2025 dilakukan pemeriksaan terhadap 11 sampel. Hasilnya ditemukan empat kasus positif Influenza A H1 dan satu kasus positif Influenza B Victoria.
Sementara itu, kasus influenza tipe A H3N2 Subclade K yang dikategorikan sebagai superflu (super flu), data Kemenkes per 1 Januari 2026 menunjukkan belum ditemukan atau terdeteksi di Jakarta. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak panik, namun tetap waspada dan menerapkan langkah pencegahan antara lain dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Warga DKI Jakarta, perlu berwas-was untuk mengantisipasi puncak flu musiman yang umum terjadi pada Februari-Maret dan Oktober-November tahun ini. Dikatakan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, pola ini relatif konsisten dan menjadi dasar penguatan upaya pencegahan pada periode tersebut.
Musim hujan maupun masa pancaroba merupakan salah satu faktor risiko meningkatnya kasus flu dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Kondisi udara yang lebih lembap membuat droplet (percikan liur dari mulut atau hidung saat batuk, bersin, atau berbicara) bertahan lebih lama sementara aktivitas masyarakat yang lebih banyak dilakukan di dalam ruangan dengan ventilasi terbatas dapat meningkatkan risiko penularan.
Selain itu, perubahan suhu yang cukup drastis juga dapat membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh, memastikan ventilasi rumah yang baik, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Kasus influenza A di Jakarta, data Sistem All Record Kemenkes menunjukkan sepanjang bulan Januari tahun 2026 terdapat satu kasus positif Influenza A subtipe H1 dan 2 kasus positif Influenza A subtipe H3 dari 43 sampel yang diperiksa. Sebagai perbandingan, pada dua minggu pertama Januari tahun 2025 dilakukan pemeriksaan terhadap 11 sampel. Hasilnya ditemukan empat kasus positif Influenza A H1 dan satu kasus positif Influenza B Victoria.
Sementara itu, kasus influenza tipe A H3N2 Subclade K yang dikategorikan sebagai superflu (super flu), data Kemenkes per 1 Januari 2026 menunjukkan belum ditemukan atau terdeteksi di Jakarta. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak panik, namun tetap waspada dan menerapkan langkah pencegahan antara lain dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).