Kondisi kanker leher rahim di Indonesia terus memprihatinkan, dengan angka kasus dan kematian perempuan yang masih tinggi. Menurut Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, situasi ini sangat menyedihkan karena sekitar 70% perempuan yang terdiagnosis kanker leher rahim sudah masuk stadium lanjut dan 50% di antaranya meninggal dunia.
Penyebab utamanya adalah tidak dilakukan skrining. Pemerintah mengacu pada target global eliminasi kanker leher rahim dengan pendekatan 90–75–90, yaitu sembilan puluh persen anak di bawah usia 15 tahun harus divaksinasi HPV, 75% perempuan usia 30 sampai 65 tahun harus menjalani skrining, dan 90% perempuan yang sudah teridentifikasi lesi prakanker harus diobati.
Kanker leher rahim dapat dicegah dan diobati jika terdeteksi dini. Program skrining berbasis tes DNA Human Papillomavirus (HPV) telah dilaksanakan dalam beberapa daerah, termasuk pilot study yang diadakan di Surabaya dan Sidoarjo.
Program ini menggunakan metode self-sampling, yaitu perempuan dapat mengambil sampel sendiri secara mandiri dan lebih privat. Hasil pilot study menunjukkan bahwa metode ini memiliki tingkat keandalan tinggi dengan angka sampel tidak valid tercatat hanya 1,1%.
Pemerintah juga menekankan pentingnya vaksinasi HPV sejak dini, dengan prioritas vaksinasi anak perempuan di bawah usia 15 tahun sebelum menikah. Dengan kombinasi vaksinasi, skrining masif, dan inovasi layanan berbasis komunitas, pemerintah berharap angka kanker leher rahim di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
Sekarang, jumlah perempuan yang telah menjalani skrining kini telah melampaui 600 ribu orang. Pemerintah berkomitmen untuk melakukan skrining yang jauh lebih masif lagi dengan edukasi yang lebih baik dan penerapan metode self-sampling.
Penyebab utamanya adalah tidak dilakukan skrining. Pemerintah mengacu pada target global eliminasi kanker leher rahim dengan pendekatan 90–75–90, yaitu sembilan puluh persen anak di bawah usia 15 tahun harus divaksinasi HPV, 75% perempuan usia 30 sampai 65 tahun harus menjalani skrining, dan 90% perempuan yang sudah teridentifikasi lesi prakanker harus diobati.
Kanker leher rahim dapat dicegah dan diobati jika terdeteksi dini. Program skrining berbasis tes DNA Human Papillomavirus (HPV) telah dilaksanakan dalam beberapa daerah, termasuk pilot study yang diadakan di Surabaya dan Sidoarjo.
Program ini menggunakan metode self-sampling, yaitu perempuan dapat mengambil sampel sendiri secara mandiri dan lebih privat. Hasil pilot study menunjukkan bahwa metode ini memiliki tingkat keandalan tinggi dengan angka sampel tidak valid tercatat hanya 1,1%.
Pemerintah juga menekankan pentingnya vaksinasi HPV sejak dini, dengan prioritas vaksinasi anak perempuan di bawah usia 15 tahun sebelum menikah. Dengan kombinasi vaksinasi, skrining masif, dan inovasi layanan berbasis komunitas, pemerintah berharap angka kanker leher rahim di Indonesia dapat ditekan secara signifikan.
Sekarang, jumlah perempuan yang telah menjalani skrining kini telah melampaui 600 ribu orang. Pemerintah berkomitmen untuk melakukan skrining yang jauh lebih masif lagi dengan edukasi yang lebih baik dan penerapan metode self-sampling.