Paham Neo Nazi dan White Supremasi Meningkat Pasca Covid-19, Kombes Mayndra Eka Wardhana menyatakan bahwa penyebaran paham ideologi kekerasan ekstrem seperti Neo Nazi dan White Supremacy meningkat secara signifikan pasca pandemi Covid-19. Penyebabnya adalah lonjakan angka yang luar biasa tajam di beberapa negara, termasuk Indonesia.
Penyebaran paham ini terjadi secara luas melalui media sosial dan dapat dilihat dari sejumlah aksi kekerasan ekstrem yang dilakukan anak-anak akibat paham tersebut. Salah satunya adalah Anderson Solomon yang melakukan aksi kekerasan di Antioch High School pada 22 Januari 2025, di mana ia terpapar paham supremasi kulit putih dan membenci identitas rasnya sendiri.
Penyelidikan menunjukkan bahwa Trinity Shopley (18) berencana melakukan penembakan di sebuah sekolah di Indiana pada Februari 2025. Kasus lain terjadi pada Agustus 2025, ketika Robin M. Westman (23) melakukan penembakan di gereja Katolik saat ibadah berlangsung karena obsesinya membunuh anak-anak.
Penyelidikan juga menunjukkan bahwa remaja asal Moscow, Rusia bernama Timofey F (15) yang diduga terinspirasi ledakan bom di SMAN 72 Jakarta melakukan penusukan di Odintsovo, Moscow, Rusia. Penyebab aksi tersebut adalah temuan tulisan 'Jakarta Bombing 2025' yang ditulis oleh pelaku pada gagang senjata miliknya.
Kombes Mayndra Eka Wardhana menjelaskan bahwa penyebaran paham atau ideologi kekerasan ekstrem terjadi secara lintas negara melalui ruang digital. Penyebabnya adalah proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial.
"Ada proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial, sehingga aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi," kata Kombes Mayndra Eka Wardhana.
Penyebaran paham ini terjadi secara luas melalui media sosial dan dapat dilihat dari sejumlah aksi kekerasan ekstrem yang dilakukan anak-anak akibat paham tersebut. Salah satunya adalah Anderson Solomon yang melakukan aksi kekerasan di Antioch High School pada 22 Januari 2025, di mana ia terpapar paham supremasi kulit putih dan membenci identitas rasnya sendiri.
Penyelidikan menunjukkan bahwa Trinity Shopley (18) berencana melakukan penembakan di sebuah sekolah di Indiana pada Februari 2025. Kasus lain terjadi pada Agustus 2025, ketika Robin M. Westman (23) melakukan penembakan di gereja Katolik saat ibadah berlangsung karena obsesinya membunuh anak-anak.
Penyelidikan juga menunjukkan bahwa remaja asal Moscow, Rusia bernama Timofey F (15) yang diduga terinspirasi ledakan bom di SMAN 72 Jakarta melakukan penusukan di Odintsovo, Moscow, Rusia. Penyebab aksi tersebut adalah temuan tulisan 'Jakarta Bombing 2025' yang ditulis oleh pelaku pada gagang senjata miliknya.
Kombes Mayndra Eka Wardhana menjelaskan bahwa penyebaran paham atau ideologi kekerasan ekstrem terjadi secara lintas negara melalui ruang digital. Penyebabnya adalah proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial.
"Ada proses inspirasi dan glorifikasi yang terjadi melalui komunitas dan media sosial, sehingga aksi teror dan kekerasan remaja di berbagai negara saling mempengaruhi," kata Kombes Mayndra Eka Wardhana.