Tewasnya Ratusan Mahasiswa di Iran, Apakah Ini Akhir dari Gerakan Mahasiswa?
Sejak awal bulan Desember lalu, gelombang protes telah menghantam Iran, dimulai dari kejutan devaluasi rial yang menyebabkan pemanasan ekonomi. Pelajari VIVA.co.id, dalam kurun waktu ini jumlah korban tewas meningkat menjadi 646 orang, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) AS.
Mahasiswa dan pemuda dari seluruh negeri telah bergabung dalam protes, yang sering kali berakhir dengan kekerasan. Sebagai contoh, di Grand Bazaar Teheran, demonstrasi memulai pada 28 Desember lalu. Pemimpin Iran kemudian menuduh AS dan Israel mendukung "perusuh bersenjata" yang telah melakukan serangan terhadap tempat umum.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahnya memantau situasi di Iran dengan cermat dan akan mengambil keputusan yang sangat kuat karena jumlah korban tewas yang semakin meningkat.
"Kita akan mengambil keputusan," kata Trump. Pihaknya telah menerima laporan setiap jam tentang Iran, tanpa memberikan informasi tentang kapan, di mana, atau bagaimana AS akan bertindak.
Pemimpin AS tersebut menyebutkan bahwa negara ini terus memantau situasi dengan hati-hati. Meskipun begitu, protes mahasiswa terus berlanjut di beberapa kota, termasuk Teheran dan kota-kota lainnya.
Selain itu, sejumlah orang ditangkap karena ikut terlibat dalam aksi tersebut, yaitu 10.721 orang hingga hari ke-16 protes nasional. Iran juga mengalami pemadaman internet selama lebih dari 100 jam.
Gelombang protes ini dimulai setelah devaluasi rial yang menyebabkan pemanasan ekonomi. Pelajari VIVA.co.id, demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota lainnya di negara tersebut.
Sejak awal bulan Desember lalu, gelombang protes telah menghantam Iran, dimulai dari kejutan devaluasi rial yang menyebabkan pemanasan ekonomi. Pelajari VIVA.co.id, dalam kurun waktu ini jumlah korban tewas meningkat menjadi 646 orang, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) AS.
Mahasiswa dan pemuda dari seluruh negeri telah bergabung dalam protes, yang sering kali berakhir dengan kekerasan. Sebagai contoh, di Grand Bazaar Teheran, demonstrasi memulai pada 28 Desember lalu. Pemimpin Iran kemudian menuduh AS dan Israel mendukung "perusuh bersenjata" yang telah melakukan serangan terhadap tempat umum.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahnya memantau situasi di Iran dengan cermat dan akan mengambil keputusan yang sangat kuat karena jumlah korban tewas yang semakin meningkat.
"Kita akan mengambil keputusan," kata Trump. Pihaknya telah menerima laporan setiap jam tentang Iran, tanpa memberikan informasi tentang kapan, di mana, atau bagaimana AS akan bertindak.
Pemimpin AS tersebut menyebutkan bahwa negara ini terus memantau situasi dengan hati-hati. Meskipun begitu, protes mahasiswa terus berlanjut di beberapa kota, termasuk Teheran dan kota-kota lainnya.
Selain itu, sejumlah orang ditangkap karena ikut terlibat dalam aksi tersebut, yaitu 10.721 orang hingga hari ke-16 protes nasional. Iran juga mengalami pemadaman internet selama lebih dari 100 jam.
Gelombang protes ini dimulai setelah devaluasi rial yang menyebabkan pemanasan ekonomi. Pelajari VIVA.co.id, demonstrasi kemudian menyebar ke beberapa kota lainnya di negara tersebut.