Operasi Absolute Resolve di Venezuela pada akhir 2025, mengingatkan kita kembali ke tragedi operasi Delta Force yang berlangsung di Somalia tahun 1993. Pada saat itu, pasukan elite AS menyerbu di rumah presiden Nicolás Maduro dan menculiknya tanpa perlawanan berarti. Operasi ini memicu skandal besar karena komunitas internasional melihatnya sebagai penculikan dan pelanggaran kedaulatan yang mencolok.
Operasi tersebut terjadi setelah beberapa bulan penelitian rahasia CIA di Venezuela, dengan biaya $50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Namun, ketika pasukan AS menyerbu, ada indikasi bantuan dari dalam negeri, karena tidak ada perlawanan signifikan dari pasukan militer Venezuela.
Operasi tersebut mengingatkan kita kembali ke kecelakaan di Mogadishu pada tahun 1993. Pada saat itu, Delta Force menyerbu di sebuah bangunan di jantung kota yang digunakan oleh presiden Somalia Omar Salad Elmi dan penasihat politik utamanya Mohamed Hassan Awale. Namun, milisi Somalia melancarkan serangan terhadap helikopter AS Super 61 yang membawa Cliff Wolcott, mengakibatkan jatuhnya helikopter tersebut dan korban hingga 18 orang.
Kemudian, pasukan AS yang terkepung di sekitar lokasi jatuhnya helikopter itu harus bertahan selama 18 jam tanpa henti melawan gelombang serangan hingga konvoi penyelamat PBB berhasil menembus blokade pada pagi tanggal 4 Oktober. Dalam peristiwa ini, 18 tentara AS tewas di tempat, lebih dari 70 terluka, dan dua helikopter hancur.
Gambar mayat tentara Amerika yang diseret di jalanan Mogadishu, disiarkan CNN ke seluruh dunia, menimbulkan trauma bagi publik dan Pemerintah AS. Reaksi keras ini memaksa Presiden Bill Clinton menarik pasukan dari Somalia, meninggalkan misi PBB dalam kekacauan.
Dampak jangka panjangnya dikenal sebagai Sindrom Mogadishu, di mana pembuat kebijakan AS enggan melakukan intervensi militer di luar negeri, terutama dengan pengerahan pasukan darat dalam konflik yang tidak memiliki kepentingan strategis vital.
Operasi tersebut terjadi setelah beberapa bulan penelitian rahasia CIA di Venezuela, dengan biaya $50 juta untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro. Namun, ketika pasukan AS menyerbu, ada indikasi bantuan dari dalam negeri, karena tidak ada perlawanan signifikan dari pasukan militer Venezuela.
Operasi tersebut mengingatkan kita kembali ke kecelakaan di Mogadishu pada tahun 1993. Pada saat itu, Delta Force menyerbu di sebuah bangunan di jantung kota yang digunakan oleh presiden Somalia Omar Salad Elmi dan penasihat politik utamanya Mohamed Hassan Awale. Namun, milisi Somalia melancarkan serangan terhadap helikopter AS Super 61 yang membawa Cliff Wolcott, mengakibatkan jatuhnya helikopter tersebut dan korban hingga 18 orang.
Kemudian, pasukan AS yang terkepung di sekitar lokasi jatuhnya helikopter itu harus bertahan selama 18 jam tanpa henti melawan gelombang serangan hingga konvoi penyelamat PBB berhasil menembus blokade pada pagi tanggal 4 Oktober. Dalam peristiwa ini, 18 tentara AS tewas di tempat, lebih dari 70 terluka, dan dua helikopter hancur.
Gambar mayat tentara Amerika yang diseret di jalanan Mogadishu, disiarkan CNN ke seluruh dunia, menimbulkan trauma bagi publik dan Pemerintah AS. Reaksi keras ini memaksa Presiden Bill Clinton menarik pasukan dari Somalia, meninggalkan misi PBB dalam kekacauan.
Dampak jangka panjangnya dikenal sebagai Sindrom Mogadishu, di mana pembuat kebijakan AS enggan melakukan intervensi militer di luar negeri, terutama dengan pengerahan pasukan darat dalam konflik yang tidak memiliki kepentingan strategis vital.