Pemerintah Indonesia menghadapi defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) sekitar 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan dalam Laporan Semester (Lapsem). Pernyataan ini dilakukan oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, yang mengakui pemerintah dapat mencapai defisit nol persen jika melakukan pengecekan anggaran belanja pusat.
"Kalau saya buat nol defisitnya juga bisa. Saya potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia akan "morat-marit" jika melakukan pengecekan seperti ini.
Pemerintah tetap menjaga agar defisit tidak melampaui batas 3 persen dari PDB, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Menurut Purbaya, pelebaran defisit sementara APBN 2025 terjadi karena realisasi belanja negara yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara.
"Kondisi ini tidak terlepas dari pelambatan ekonomi nasional sepanjang tahun lalu akibat tekanan global," kata Purbaya. Ia menambahkan bahwa pemerintah menerapkan prinsip belanja adaptif dengan menggelontorkan berbagai stimulus guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Untuk menjaga APBN tetap berada dalam koridor yang aman, pemerintah menerapkan program prioritas serta tata kelola yang terjaga. Purbaya optimistis defisit fiskal pada tahun mendatang dapat ditekan ke level yang lebih rendah.
"Dengan dampak pertumbuhan ekonomi ke masyarakat yang lebih besar dibanding tahun lalu," kata Purbaya.
"Kalau saya buat nol defisitnya juga bisa. Saya potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit," kata Purbaya dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Januari 2026. Ia menjelaskan bahwa ekonomi Indonesia akan "morat-marit" jika melakukan pengecekan seperti ini.
Pemerintah tetap menjaga agar defisit tidak melampaui batas 3 persen dari PDB, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Menurut Purbaya, pelebaran defisit sementara APBN 2025 terjadi karena realisasi belanja negara yang jauh lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara.
"Kondisi ini tidak terlepas dari pelambatan ekonomi nasional sepanjang tahun lalu akibat tekanan global," kata Purbaya. Ia menambahkan bahwa pemerintah menerapkan prinsip belanja adaptif dengan menggelontorkan berbagai stimulus guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Untuk menjaga APBN tetap berada dalam koridor yang aman, pemerintah menerapkan program prioritas serta tata kelola yang terjaga. Purbaya optimistis defisit fiskal pada tahun mendatang dapat ditekan ke level yang lebih rendah.
"Dengan dampak pertumbuhan ekonomi ke masyarakat yang lebih besar dibanding tahun lalu," kata Purbaya.