Pemerintah Indonesia melaporkan defisit sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun, atau setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini lebih tinggi dibandingkan defisit yang ditetapkan dalam outlook Laporan Semester (Lapsem) sebesar Rp662 triliun, atau 2,78 persen terhadap PDB.
Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pelebaran defisit ini disebabkan oleh lonjakan belanja negara pada 2025, di tengah tekanan yang masih membayangi pendapatan negara. Ia menyatakan bahwa jika pendapatan negara hanya sebesar 91 persen, sedangkan belanja negara mencapai 95,3 persen, maka tidak ada alasan untuk memotong belanja tersebut.
Sementara itu, realisasi sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2,756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook sebesar Rp2,865,5 triliun. Sementara itu, realisasi sementara belanja negara mencapai Rp3,451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook sebesar Rp3,527,5 triliun.
Purbaya menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang masih berlangsung membuat pemerintah perlu memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan. Ia dinilai tidak membahayakan perekonomian, meski defisitnya membesar ke Rp695,1 triliun.
"Kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun, bahwa kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bertumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN," kata Purbaya.
Meski belanja pemerintah pusat meningkat, pemerintah memastikan defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen dari PDB.
Menurut Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, pelebaran defisit ini disebabkan oleh lonjakan belanja negara pada 2025, di tengah tekanan yang masih membayangi pendapatan negara. Ia menyatakan bahwa jika pendapatan negara hanya sebesar 91 persen, sedangkan belanja negara mencapai 95,3 persen, maka tidak ada alasan untuk memotong belanja tersebut.
Sementara itu, realisasi sementara pendapatan negara tercatat sebesar Rp2,756,3 triliun atau 91,7 persen dari outlook sebesar Rp2,865,5 triliun. Sementara itu, realisasi sementara belanja negara mencapai Rp3,451,4 triliun atau 95,3 persen dari outlook sebesar Rp3,527,5 triliun.
Purbaya menjelaskan bahwa tekanan ekonomi yang masih berlangsung membuat pemerintah perlu memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan. Ia dinilai tidak membahayakan perekonomian, meski defisitnya membesar ke Rp695,1 triliun.
"Kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun, bahwa kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bertumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN," kata Purbaya.
Meski belanja pemerintah pusat meningkat, pemerintah memastikan defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen dari PDB.