Defisit APBN 2025 Meningkat, Tapi Belanja Pemerintah Tetap Dipertahankan
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun. Ini menunjukkan perbedaan dari outlook yang ditetapkan dalam Laporan Semester sebesar Rp662 triliun atau 2,78 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menjelaskan bahwa lonjakan belanja negara pada 2025 menjadi penyebab utama perbedaan tersebut. Hal ini mengingat tekanan yang masih membayangi pendapatan negara. Menurut Purbaya, defisit sementara ini tidak akan membahayakan perekonomian, karena pemerintah perlu memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan.
"Kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun, bahwa kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bertumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN," kata Purbaya.
Meski belanja pemerintah pusat meningkat, pemerintah memastikan defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen dari PDB. Defisit sementara ini naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen.
"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi. Inilah kebijakan real dari counter-cyclical yang sering saya bilang selama ini," tukas Purbaya.
Kementerian Keuangan tidak menutup kemungkinan bahwa defisit sementara ini akan tetap terkendali di 2025, meski masih dalam proses evaluasi dan perencanaan lanjutan.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan defisit sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp695,1 triliun. Ini menunjukkan perbedaan dari outlook yang ditetapkan dalam Laporan Semester sebesar Rp662 triliun atau 2,78 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Purbaya menjelaskan bahwa lonjakan belanja negara pada 2025 menjadi penyebab utama perbedaan tersebut. Hal ini mengingat tekanan yang masih membayangi pendapatan negara. Menurut Purbaya, defisit sementara ini tidak akan membahayakan perekonomian, karena pemerintah perlu memberikan stimulus guna menjaga momentum pertumbuhan.
"Kita tahu kan, ketika ekonomi kita sedang mengalami downturn, turun, bahwa kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap bertumbuh secara berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN," kata Purbaya.
Meski belanja pemerintah pusat meningkat, pemerintah memastikan defisit tetap terkendali dan tidak melampaui batas 3 persen dari PDB. Defisit sementara ini naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen.
"Defisitnya memang naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen. Ini tadi dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi. Inilah kebijakan real dari counter-cyclical yang sering saya bilang selama ini," tukas Purbaya.
Kementerian Keuangan tidak menutup kemungkinan bahwa defisit sementara ini akan tetap terkendali di 2025, meski masih dalam proses evaluasi dan perencanaan lanjutan.