Pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa banyak ide usaha sebenarnya punya potensi, tapi berhenti di tengah jalan karena dijalankan tanpa arah yang jelas? Sebaliknya, buat mahasiswa, Ibu Rumah Tangga (IRT), atau siapa pun yang ingin memulai usaha baik sebagai side hustle maupun pekerjaan utama, business plan atau dokumen rencana bisnis tidak harus kompleks seperti dalam konteks investor besar.
Rencana usaha yang sederhana justru membantu kamu melihat gambaran besar: usaha ini mau dibawa ke mana, modal apa saja yang dibutuhkan, siapa calon pelangganmu, dan cara bertahan saat tantangan muncul. Business plan yang simpel berfungsi sebagai peta awal agar kamu bisa melangkah lebih tenang dan percaya diri, alih-alih sesuatu yang malah bikin stres.
Membuat business plan sering terdengar menakutkan karena dibayangkan penuh angka dan istilah rumit. Padahal, business plan sederhana justru dirancang agar mudah dipahami dan bisa langsung kamu terapkan. Dengan langkah yang tepat, kamu bisa menyusun rencana usaha tanpa harus punya latar belakang bisnis atau pengalaman panjang terlebih dulu.
Berikut adalah 8 langkah sederhana untuk membuat business plan:
1. Tuliskan Ide Bisnis dan Tujuan Utama
Langkah awal dalam business plan sederhana adalah menuliskan ide bisnis dan tujuan utamanya. Jelaskan usaha apa yang ingin kamu jalankan serta alasan memulainya, misalnya jual aksesori handmade, jasa les privat, atau layanan digital.
Lihat juga dari sisi calon pelanggan, masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan dan mengapa produk atau jasmu layak dipilih. Usahakan inti bisnismu bisa dirangkum dalam satu atau dua kalimat agar arah usaha lebih jelas sejak awal.
2. Riset Pasar Singkat
Langkah selanjutnya adalah melakukan market research atau riset pasar singkat untuk mengenali siapa target pelangganmu, apa kebutuhan mereka, dan siapa saja kompetitor yang sudah ada.
Kamu bisa mulai dari hal sederhana, seperti bertanya ke teman, calon pembeli, atau mengamati produk serupa di media sosial dan marketplace.
Dengan memahami siapa yang ingin kamu sasar, kamu bisa menawarkan produk atau jasa yang benar-benar sesuai kebutuhan mereka. Riset kecil ini juga membantu memastikan ide usahamu punya peluang, sehingga kamu tidak menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang ternyata kurang diminati pasar.
3. Tentukan Produk dan Layanan yang Ditawarkan
Di tahap ini, jelaskan secara singkat produk atau layanan yang kamu tawarkan, mulai dari fitur, manfaat, hingga keunikan utamanya.
Bagian ini penting karena menjadi inti business plan agar orang lain langsung paham apa yang kamu jual. Tunjukkan juga posisi bisnismu di pasar dan apa yang membedakannya dari kompetitor. Dengan memahami kelebihan produk atau layananmu, kamu bisa menyampaikan nilai jualnya dengan lebih jelas dan relevan ke calon pelanggan.
4. Model Bisnis & Strategi Pemasaran
Pada bagian ini, jelaskan bagaimana bisnismu menghasilkan uang, misalnya lewat penjualan langsung, online, sistem preorder, atau langganan.
Tentukan juga media pemasaran yang akan kamu gunakan, seperti Instagram, TikTok, marketplace, atau website sederhana. Perhatikan lokasi dan target pasar usahamu, apakah ada permintaan di sekitarmu atau perlu dibangun lewat promosi.
5. Rencana Operasional Sederhana
Rencana operasional membantu kamu melihat apa saja aktivitas yang perlu dilakukan secara rutin, baik harian maupun mingguan, seperti produksi, pengemasan, pengelolaan stok, hingga melayani pelanggan.
Di bagian ini, tuliskan juga kebutuhan utama usaha, mulai dari alat, bahan, hingga biaya yang harus disiapkan. Jelaskan secara sederhana bagaimana produk atau layanan akan diproses dan dikirim ke pelanggan.
6. Proyeksi Keuangan Dasar
Bagian proyeksi keuangan berisi gambaran sederhana soal kondisi finansial usahamu. Kamu bisa mulai dengan mencatat perkiraan modal awal, biaya operasional bulanan, dan target pendapatan.
Tidak perlu detail rumit, yang penting angkanya realistis dan masuk akal. Pastikan semua biaya utama sudah diperhitungkan, mulai dari bahan, alat, hingga pengeluaran rutin.
7. Identifikasi Risiko dan Rencana Cadangan
Di bagian ini, kamu perlu mengenali risiko yang mungkin muncul, seperti stok bahan habis, penjualan sepi, atau persaingan yang cukup ketat.
Dengan menyadari tantangan sejak awal, kamu bisa menyiapkan langkah cadangan yang lebih tenang dan terukur. Tuliskan solusi sederhana untuk tiap risiko, misalnya punya pemasok alternatif atau menyiapkan strategi promosi tambahan.
8. Langkah Tindak Lanjut
Bagian terakhir adalah langkah tindak lanjut agar rencana tidak berhenti di atas kertas. Buat daftar tugas sederhana yang bisa langsung kamu kerjakan, seperti membuka akun toko online, menyiapkan logo sederhana, atau mencoba menjual produk ke teman terlebih dulu.
Langkah kecil ini membantu kamu mulai bergerak dan menguji rencana usaha secara nyata. Fokus pada satu per satu tugas agar proses memulai bisnis terasa lebih ringan dan terarah.
Dengan menyusun business plan yang sederhana, kamu bisa melihat arah usaha lebih jelas sejak awal. Ingatlah, business plan bukan dokumen kaku tapi fleksibel. Rencana ini bisa terus kamu perbarui seiring bertambahnya pengalaman dan masukan dari pasar.
Rencana usaha yang sederhana justru membantu kamu melihat gambaran besar: usaha ini mau dibawa ke mana, modal apa saja yang dibutuhkan, siapa calon pelangganmu, dan cara bertahan saat tantangan muncul. Business plan yang simpel berfungsi sebagai peta awal agar kamu bisa melangkah lebih tenang dan percaya diri, alih-alih sesuatu yang malah bikin stres.
Membuat business plan sering terdengar menakutkan karena dibayangkan penuh angka dan istilah rumit. Padahal, business plan sederhana justru dirancang agar mudah dipahami dan bisa langsung kamu terapkan. Dengan langkah yang tepat, kamu bisa menyusun rencana usaha tanpa harus punya latar belakang bisnis atau pengalaman panjang terlebih dulu.
Berikut adalah 8 langkah sederhana untuk membuat business plan:
1. Tuliskan Ide Bisnis dan Tujuan Utama
Langkah awal dalam business plan sederhana adalah menuliskan ide bisnis dan tujuan utamanya. Jelaskan usaha apa yang ingin kamu jalankan serta alasan memulainya, misalnya jual aksesori handmade, jasa les privat, atau layanan digital.
Lihat juga dari sisi calon pelanggan, masalah apa yang ingin kamu bantu selesaikan dan mengapa produk atau jasmu layak dipilih. Usahakan inti bisnismu bisa dirangkum dalam satu atau dua kalimat agar arah usaha lebih jelas sejak awal.
2. Riset Pasar Singkat
Langkah selanjutnya adalah melakukan market research atau riset pasar singkat untuk mengenali siapa target pelangganmu, apa kebutuhan mereka, dan siapa saja kompetitor yang sudah ada.
Kamu bisa mulai dari hal sederhana, seperti bertanya ke teman, calon pembeli, atau mengamati produk serupa di media sosial dan marketplace.
Dengan memahami siapa yang ingin kamu sasar, kamu bisa menawarkan produk atau jasa yang benar-benar sesuai kebutuhan mereka. Riset kecil ini juga membantu memastikan ide usahamu punya peluang, sehingga kamu tidak menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang ternyata kurang diminati pasar.
3. Tentukan Produk dan Layanan yang Ditawarkan
Di tahap ini, jelaskan secara singkat produk atau layanan yang kamu tawarkan, mulai dari fitur, manfaat, hingga keunikan utamanya.
Bagian ini penting karena menjadi inti business plan agar orang lain langsung paham apa yang kamu jual. Tunjukkan juga posisi bisnismu di pasar dan apa yang membedakannya dari kompetitor. Dengan memahami kelebihan produk atau layananmu, kamu bisa menyampaikan nilai jualnya dengan lebih jelas dan relevan ke calon pelanggan.
4. Model Bisnis & Strategi Pemasaran
Pada bagian ini, jelaskan bagaimana bisnismu menghasilkan uang, misalnya lewat penjualan langsung, online, sistem preorder, atau langganan.
Tentukan juga media pemasaran yang akan kamu gunakan, seperti Instagram, TikTok, marketplace, atau website sederhana. Perhatikan lokasi dan target pasar usahamu, apakah ada permintaan di sekitarmu atau perlu dibangun lewat promosi.
5. Rencana Operasional Sederhana
Rencana operasional membantu kamu melihat apa saja aktivitas yang perlu dilakukan secara rutin, baik harian maupun mingguan, seperti produksi, pengemasan, pengelolaan stok, hingga melayani pelanggan.
Di bagian ini, tuliskan juga kebutuhan utama usaha, mulai dari alat, bahan, hingga biaya yang harus disiapkan. Jelaskan secara sederhana bagaimana produk atau layanan akan diproses dan dikirim ke pelanggan.
6. Proyeksi Keuangan Dasar
Bagian proyeksi keuangan berisi gambaran sederhana soal kondisi finansial usahamu. Kamu bisa mulai dengan mencatat perkiraan modal awal, biaya operasional bulanan, dan target pendapatan.
Tidak perlu detail rumit, yang penting angkanya realistis dan masuk akal. Pastikan semua biaya utama sudah diperhitungkan, mulai dari bahan, alat, hingga pengeluaran rutin.
7. Identifikasi Risiko dan Rencana Cadangan
Di bagian ini, kamu perlu mengenali risiko yang mungkin muncul, seperti stok bahan habis, penjualan sepi, atau persaingan yang cukup ketat.
Dengan menyadari tantangan sejak awal, kamu bisa menyiapkan langkah cadangan yang lebih tenang dan terukur. Tuliskan solusi sederhana untuk tiap risiko, misalnya punya pemasok alternatif atau menyiapkan strategi promosi tambahan.
8. Langkah Tindak Lanjut
Bagian terakhir adalah langkah tindak lanjut agar rencana tidak berhenti di atas kertas. Buat daftar tugas sederhana yang bisa langsung kamu kerjakan, seperti membuka akun toko online, menyiapkan logo sederhana, atau mencoba menjual produk ke teman terlebih dulu.
Langkah kecil ini membantu kamu mulai bergerak dan menguji rencana usaha secara nyata. Fokus pada satu per satu tugas agar proses memulai bisnis terasa lebih ringan dan terarah.
Dengan menyusun business plan yang sederhana, kamu bisa melihat arah usaha lebih jelas sejak awal. Ingatlah, business plan bukan dokumen kaku tapi fleksibel. Rencana ini bisa terus kamu perbarui seiring bertambahnya pengalaman dan masukan dari pasar.