Danantara Mau Genggam 15-30% Saham BEI usai Demutualisasi

CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan, setelah demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI), perusahaan tersebut akan mempertimbangkan untuk memegang saham BEI dalam rentang 15-30 persen. Menurutnya, kebijakan ini telah menjadi praktek di banyak negara, termasuk negara-negara yang memiliki sovereign wealth fund (SWF) mereka sendiri.

"Kita akan mempelajari terlebih dulu seberapa besar persentase kita ingin mendapatkan, dan tentunya kita juga punya kriteria tertentu untuk berinvestasi. Dan menurut informasi kami, hampir di semua bursa lainnya di dunia ini SWF-nya itu sudah memegang saham diatas 15 persen," katanya dalam acara Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan.

Namun, menurut Rosan, tidak semua negara memiliki SWF yang memegang saham BEI lebih dari 30 persen. Di beberapa negara, bahkan SWF mereka sendiri yang memegang saham diatas 30 persen.

Hal ini berbeda dengan kebijakan pemerintah Indonesia untuk membuat BEI menjadi perusahaan terbuka dan melakukan IPO (initial public offering) setelah demutualisasi. Hal ini berarti, tidak hanya Danantara, tapi juga investor ritel maupun institusi asing dapat memegang saham BEI.

Sementara itu, CIO Danantara, Pandu Patria Sjahrir, mengatakan bahwa di banyak negara, kepemilikan saham bursa oleh SWF domestik merupakan praktek yang umum. Ia berpendapat, Indonesia sebaiknya memiliki SWF sendiri untuk memegang saham BEI.

"Jangan seperti Singapura atau Hongkong, yang memiliki SWF mereka sendiri. Jadi, kita harus membuat perbedaan dan menjadi lebih independen dalam hal ini," katanya.
 
😊 aku pikir pemerintah Indonesia seharusnya jangan terlalu cepat untuk memegang saham BEI diatas 30 persen. kalau begitu, gak seperti Singapura atau Hongkong yang punya SWF mereka sendiri, kan? 🤔 itu beda dari hal ini nih, kita harus jaga keseimbangan antara investor asing dan domestik, ya? 😊
 
Eh, apa kebijakan ini, memang nih kaya bikin kita bisa jadi seperti negara lain, gak? Jadi, Singapura udah punya SWF-nya sendiri, dan Hongkong juga punya. Tapi, Indonesia lagi-maga, bikin perbedaan aja kayaknya.

Danantara memegang saham BEI di atas 15 persen, tapi masih belum tentu apakah itu bisa jadi model bagi kita. Jadi, aku pikir SWF-Indonesia harus punya kebijakan sendiri, gak? Bikin perbedaan dengan negara-negara lain, jadi kita bisa jadi lebih kaya dan berinvestasi di bursa modal Indonesia juga.

Aku pikir ini kalau nanti bisa bikin kita menjadi negara yang lebih maju, jadi kita bisa jadi lebih sukses dalam investasi dan bisnis. Danantara-nya punya ide yang baik, tapi aku rasa kita harus bereksperimen juga, biar kita bisa menemukan kebijakan yang tepat untuk Indonesia, kayaknya. 🤔💡
 
Makasih ya gue tahu kebijakan baru dari Danantara Rosan Roeslani nih... Kalau suka kayaknya ada 15-30 persen saham yang dimiliki oleh Danantara di BEI, tapi siapa tahu apa kriteria yang dimiliki, kalau kurang jelas aja... Yang penting makasih dan semoga sukses untuk perusahaan-perusahaan lain juga 😊
 
Ggini sih sih proses ini? Mereka ingin memegang saham BEI sampai 30 persen? Apakah itu tidak akan melebihin investor lain di bawahnya? Dan apa sih keuntungan mereka jika mereka memegang saham BEI hingga 30 persen? Hmm, lebih baik kita lihat contoh dari negara-negara lain ya 🤔
 
Maksudnya apa sih? Kalau mau demutualisasi, kayaknya harus ada rencana yang jelas. Apa itu 15-30 persen aja, itu nggak terlalu jelas sih 🤔. Dan kalau mereka punya SWF sendiri, mengapa tidak juga ikuti contoh Singapura atau Hongkong? Maksudnya ingin menjadi perbedaan apa? 🙄. Belum bisa dipastikan apa yang benar dan apa yang salah, aja kita tunggu dulu ya 💡.
 
Aku pikir kalau suatu saat nanti, kebijakan ini akan jadi masalah besar, karena mana sih yang menguasai BEI itu? Kalau investor asing dan Danantara memegang sahamnya banyak, maka apa dengan kepentingan masyarakat umum? Aku pikir pemerintah harus lebih teliti dalam membuat kebijakan ini.
 
kembali
Top