Banjir Guci Mengancam Aktivitas Nelayan di Pantai Larangan
Tumpukan kayu yang terbawa arus banjir bandang dari kawasan wisata Guci, Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Tiri.to.id)
Banjir bandang di daerah Guci beberapa hari yang lalu telah menimbulkan masalah bagi warga sekitar. Selain dampak dari banjir itu sendiri, kini terjadi kerusakan pada pantai Larangan. Kawasan wisata ini yang berada tepat di dekat muara Sungai Gung, akhirnya dipenuhi tumpukan batang kayu hingga menutupi sebagian kawasan tersebut.
Warga setempat menyebutkan bahwa kayu-kayu mulai terlihat memenuhi pantai sejak Sabtu pagi, atau beberapa saat setelah banjir bandang menerjang wilayah Guci. Tumpukan kayu terus bertambah pada hari berikutnya sehingga kini warga khawatir, jika tidak segera dibersihkan, tumpukan kayu tersebut akan mengganggu aktivitas nelayan di pantai Larangan.
Menurut Sumiyati (46), salah satu warga yang tinggal di desa Munjung Agung, sebagian besar kayu yang terdampar merupakan kayu hutan yang terbawa arus deras dari wilayah pegunungan Gunung Slamet. "Kemarin Sabtu sampai Minggu banyak sekali kayu, bahkan ada palaron juga yang terbawa dari Guci," ujarnya.
Sanah (53), warga lainnya, menjelaskan bahwa pantai Larangan berada tepat di dekat muara Sungai Gung yang alirannya terhubung langsung hingga kawasan Guci. "Sehari setelah banjir, kayu-kayu itu keluar dari muara Kali Gung dan langsung ke pantai," katanya.
Masyarakat di wilayah pesisir ini berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan penanganan agar tidak berdampak lebih luas terhadap mata pencaharian warga pesisir.
Tumpukan kayu yang terbawa arus banjir bandang dari kawasan wisata Guci, Desa Munjung Agung, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Tiri.to.id)
Banjir bandang di daerah Guci beberapa hari yang lalu telah menimbulkan masalah bagi warga sekitar. Selain dampak dari banjir itu sendiri, kini terjadi kerusakan pada pantai Larangan. Kawasan wisata ini yang berada tepat di dekat muara Sungai Gung, akhirnya dipenuhi tumpukan batang kayu hingga menutupi sebagian kawasan tersebut.
Warga setempat menyebutkan bahwa kayu-kayu mulai terlihat memenuhi pantai sejak Sabtu pagi, atau beberapa saat setelah banjir bandang menerjang wilayah Guci. Tumpukan kayu terus bertambah pada hari berikutnya sehingga kini warga khawatir, jika tidak segera dibersihkan, tumpukan kayu tersebut akan mengganggu aktivitas nelayan di pantai Larangan.
Menurut Sumiyati (46), salah satu warga yang tinggal di desa Munjung Agung, sebagian besar kayu yang terdampar merupakan kayu hutan yang terbawa arus deras dari wilayah pegunungan Gunung Slamet. "Kemarin Sabtu sampai Minggu banyak sekali kayu, bahkan ada palaron juga yang terbawa dari Guci," ujarnya.
Sanah (53), warga lainnya, menjelaskan bahwa pantai Larangan berada tepat di dekat muara Sungai Gung yang alirannya terhubung langsung hingga kawasan Guci. "Sehari setelah banjir, kayu-kayu itu keluar dari muara Kali Gung dan langsung ke pantai," katanya.
Masyarakat di wilayah pesisir ini berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan penanganan agar tidak berdampak lebih luas terhadap mata pencaharian warga pesisir.