Pemenang Grammy Award 2026, Dalai Lama, terus memicu perdebatan di kalangan para pejabat dan pengamat dunia. Pada akhirnya, kemenangannya dalam kategori Best Album Spoken Word diakui oleh penghargaan tertinggi di industri musik, Grammy Awards 2026.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menghindarinya dari kutukan masyarakat. Di kalangan para pejabat Beijing, kemenangan tersebut dianggap sebagai manipulasi politik untuk mengkampanyekan sentimen anti-Cina. Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan bahwa pihak-pihak yang menggunakan penghargaan seni ini sebagai alat untuk manipulasi politik anti-Cina, dan posisi tersebut konsisten dan jelas.
Pertanyaannya, bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana pihak yang memiliki otoritas tinggi di Cina bisa merasa bahwa Grammy Awards 2026 bisa digunakan sebagai alat manipulatif? Atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bermain di balik perdebatan ini.
Dalai Lama, pemimpin spiritual dan politik Tibet yang masih hidup dalam pengasingan setelah dinyatakan sebagai pemberontak dan pemimpin separatisme Tibet oleh Beijing pada 1959. Ia menjadi pemenang Grammy atas rekamannya yang bertajuk "Meditations: The Reflection Of His Holiness The Dalai Lama (2025)". Album tersebut merupakan cuplikan dari ceramah dan tulisan Dalai Lama ketika merefleksikan kesadaran, harmoni, dan kesejahteraan.
Tentu saja ada banyak perdebatan mengenai kemenangan ini. Namun, satu hal yang tidak bisa ditandingi adalah kejayaan Dalai Lama sebagai pemimpin spiritual dan politik Tibet. Ia tetap menjadi simbol harapan bagi rakyat Tibet yang masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka.
Sementara itu, para pejabat Beijing terus mempertanyakan kemenangan ini. Mereka menyatakan bahwa pihak-pihak yang menggunakan penghargaan seni sebagai alat untuk manipulasi politik anti-Cina, dan posisi tersebut konsisten dan jelas. Tapi apa arti dari kata-kata mereka?
Atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bermain di balik perdebatan ini?
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menghindarinya dari kutukan masyarakat. Di kalangan para pejabat Beijing, kemenangan tersebut dianggap sebagai manipulasi politik untuk mengkampanyekan sentimen anti-Cina. Kementerian Luar Negeri Cina menyatakan bahwa pihak-pihak yang menggunakan penghargaan seni ini sebagai alat untuk manipulasi politik anti-Cina, dan posisi tersebut konsisten dan jelas.
Pertanyaannya, bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana pihak yang memiliki otoritas tinggi di Cina bisa merasa bahwa Grammy Awards 2026 bisa digunakan sebagai alat manipulatif? Atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bermain di balik perdebatan ini.
Dalai Lama, pemimpin spiritual dan politik Tibet yang masih hidup dalam pengasingan setelah dinyatakan sebagai pemberontak dan pemimpin separatisme Tibet oleh Beijing pada 1959. Ia menjadi pemenang Grammy atas rekamannya yang bertajuk "Meditations: The Reflection Of His Holiness The Dalai Lama (2025)". Album tersebut merupakan cuplikan dari ceramah dan tulisan Dalai Lama ketika merefleksikan kesadaran, harmoni, dan kesejahteraan.
Tentu saja ada banyak perdebatan mengenai kemenangan ini. Namun, satu hal yang tidak bisa ditandingi adalah kejayaan Dalai Lama sebagai pemimpin spiritual dan politik Tibet. Ia tetap menjadi simbol harapan bagi rakyat Tibet yang masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak mereka.
Sementara itu, para pejabat Beijing terus mempertanyakan kemenangan ini. Mereka menyatakan bahwa pihak-pihak yang menggunakan penghargaan seni sebagai alat untuk manipulasi politik anti-Cina, dan posisi tersebut konsisten dan jelas. Tapi apa arti dari kata-kata mereka?
Atau mungkin ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang bermain di balik perdebatan ini?